Antisipasi Dini Dan Gerak Cepat Aparat Keamanan, Gagalkan Dalang Kerusuhan 22 Mei Berbuat Lebih Parah

0
3712

Pihak perusuh tampaknya tidak menyadari bahwa pemerintah dalam hal ini seluruh jajaran aparat pertahanan dan keamanan Republik Indonesia telah lama mengantisipasi dan mengamati pergerakan mereka. Provokasi yang transparan dan diumbar ke media sosial oleh para dalang kerusuhan tersebut sangat jelas dan nyata.

Tanpa perlu berdebat masyarakat dapat langsung menuding bahwa kubu 02 Prabowo-Sandi lah yang menggerakkan kerusuhan 22 Mei 2019 ini dengan kedok kedaulatan rakyat dan aksi demonstrasi ‘damai’. Aksi ‘damai’ 22 Mei 2019 sangat jauh dari Aksi 212 yang disebut super damai karena mengutamakan ketertiban dengan tujuan yang jelas.

Namun aksi demonstrasi di depan Bawaslu 22 Mei 2019 lalu jelas adalah tindakan anarki, terencana dan dibiayai oleh dalang kerusuhan itu sendiri. Gerak cepat aparat keamanan akhirnya dapat menciduk ratusan pelaku kerusuhan sekaligus menjadi saksi penting dalam penyelidikan kepolisian untuk mengungkap satu persatu dalang dan penggerak kerusuhan itu sendiri.

Sehari setelah aksi rusuh, Menko Polhukam RI Wiranto mengatakan pemerintah sudah mengetahui dalang di balik aksi kerusuhan 22 Mei 2019. “Kami sebenarnya sudah mengetahui dalang aksi tersebut dan aparat keamanan akan bertindak tegas,” kata dia.

Mantan Panglima ABRI itu mengatakan berdasarkan rangkaian peristiwa hingga kerusuhan pecah, pihaknya melihat ada upaya membuat kekacauan nasional.

Hal itu, kata dia, terlihat dari pernyataan tokoh-tokoh yang kemudian menyalahkan aparat keamanan atas jatuhnya korban jiwa.

Wiranto melihat ada upaya membangun kebencian hingga antipemerintah.

Padahal, kata dia, ada aksi brutal yang dilakukan kelompok lain selain pengunjuk rasa yaitu kelompok preman bayaran.

“Mereka menyerang petugas, merusak asrama Polri di Petamburan, membakar sejumlah kendaraan, dan aksi brutal lain,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Staf Kepresiden RI Jenderal (Purn) Moeldoko mengatakan, saat ini aparat kepolisian masih mendalami aktor utama di balik aksi demo yang berakhir ricuh tersebut.

“Kita memang sudah bisa merumuskan siapa aktor yang mencari senjata. Tetapi di balik senjata ini siapa aktornya, setelah senjata itu kita dalamin,” kata Moeldoko, Selasa (28/5/2019).

Upaya penyidikan kepolisian pun sudah mengerucut kepada dua tujuan. Kapolri menegaskan bahwa Polri telah membentuk dua Tim Investigasi kerusuhan 21-22 Mei lalu. Tim itu hingga kini masih mempelajari kronologi peristiwa. Dari sana diketahui ada dua peristiwa yaitu aksi damai dengan aksi rusuh. Sehingga, kedua kelompok itu tidak bisa disimpulkan menjadi satu kelompok perusuh.

Dua tim terdiri dari tim pertama adalah tim Bareskrim bertugas mengungkap siapa dalang dan pendana serta mencari tahu apakah gerakan itu terorganisir. Tim investigasi juga akan menyelidiki perbedaan skema massa rusuh yang terjadi pada tanggal 21 Mei dan 22 Mei. Tim pun menyelidiki korban yang diduga perusuh dan apa yang menyebabkan korban tewas.

“Sedang diselidiki ini jatuhnya korban yang diduga perusuh menyerang ini dimana dan meninggalnya karena apa kalau dia tertembak? tertembak oleh siapa itu yang sedang kita cari,” kata Tito dia di Mabes Polri, Rabu (5/6).

Tito menambahkan sejauh ini dari 441 orang perusuh yang telah ditangkap, pihaknya telah memecah-mecah kelompok mana saja mereka. Kebanyakan mereka dari luar kota. Ada kelompok Lampung, Banten sampai Aceh. “Siapa yang mengundang mereka ke sini (Jakarta), siapa yang membiayai mereka,” katanya.

Tito menambahkan, Polri akan membawa hasil investigasi kerusuhan 21-22 Mei ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), tapi sampai sekarang investigasi yang dilakukan belum rampung. Nantinya tim investigasi Polri akan berkesinambungan dengan tim investigasi milik Komnas HAM.

“Tim investigasi dipimpin langsung oleh Irwasum, Irwasum itu orang ketiga yang memang menangani bidangnya adalah bidang untuk pemeriksaan internal tapi paralel dengan Komnas HAM. Kenapa? Kita tidak ingin nanti dianggap eksklusif internal nutup-nutupin itu ya, jadi Komnas HAM kita paralel yang juga memiliki tim investigasi,” ujar dia.

Mantan Kapolda Metro Jaya itu mengatakan nantinya kesimpulan dari penyelidikan dan penyidikan investigasi akan dipaparkan ke Komnas HAM. Kompolnas dan Ombudsman juga akan dilibatkan. “Ini saya masih berikan waktu kepada tim secepatnya kalau mereka sudah pada kesimpulan dipaparkan di Komnas HAM biar nanti kami lihat Komnas HAM memiliki data apakah memiliki data-data lain setelah itu lakukan konferensi pers bersama, apapun hasilnya,” ungkap dia.

Sikap profesional dan transparan Kapolri ini tentu menciutkan nyali para dalang kerusuhan itu sendiri. Saat ini mereka sudah bungkam namun terus menggerakkan buzzer-buzzer anonimnya untuk terus memprovokasi rakyat agar tidak mempercayai pihak kepolisian. Namun rakyat Indonesia pada akhirnya akan mendapat informasi lengkap tentang kronologi dan dalang sebenarnya aksi kerusuhan 22 mei tersebut.