Apa yang Diharapkan Rakyat Jika Calonnya Buruk, Sidang Ratna Sarumpaet Membuktikan

0
148

Kasus hoaks Ratna Sarumpaet yang di sidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, mendapat sorotan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

Wakil Sekretaris TKN Raja Juli Antoni menyebut, sidang kasus Ratna menunjukkan bahwa kubu Prabowo mampu menggunakan segala cara untuk memenangi kontestasi Pilpres 2019. Ia punj bersyukur kasus itu akhirnya digelar.

“Saya bersyukur sidang kasus Ratna Sarumpaet bisa digelar kemarin. Perkara Ratu Hoax dari kubu hoax akhirnya disidangkan,” kata pria yang akrab disapa Toni ini kepada wartawan, Jumat (1/3/2019).

Toni menilai, sidang kemarin memperlihatkan buruknya kepemimpinan (leadership) Prabowo yang mudah mempercayai hoax yang direkayasa oleh Ratna. Menurut dia, Prabowo tampil sebagai pemimpin yang emosional karena menelan informasi tanpa melakukan klarifikasi.

“Kasus Ratu Hoax ini juga memperlihatkan buruknya leadership Prabowo. Prabowo pemimpin yang tidak matang dan emosional sehingga tidak mampu memproses sebuah informasi dengan tepat sehingga keputusan yang diambil sangat buruk. Grasa-grusu, semua informasi ditelan bulat-bulat tanpa klarifikasi sama sekali,” ucapnya.

Parahnya lagi, dari kasus RS, kubu oposisi mempergunakan cara keji dan kejam, serta berambisi untuk memframing Jokowi sebagai pemimpin diktator dan otoriter melalui kebohongan Ratna.

“Lalu apa yang diharapkan rakyat dari kubu penyebar hoax dengan calon presiden yang leadership yang buruk?” kata Toni.

Ratna menjalani sidang dakwaan di PN Jakarta Selatan, Jalan Ampera, Jakarta Selatan, Kamis (28/2). Jaksa penuntut umum (JPU) mendakwa Ratna Sarumpaet membuat keonaran dengan menyebarkan hoax penganiayaan. Ratna disebut sengaja membuat kegaduhan lewat cerita dan foto-foto wajah yang lebam dan bengkak yang disebut akibat penganiayaan.

Padahal kondisi bengkak pada wajah Ratna merupakan efek dari operasi plastik di RS Bina Estetika, Menteng. Jaksa mengungkap, Ratna memfoto dirinya saat menjalani perawatan medis, lalu menyebarkan foto ditambah keterangan soal terjadinya penganiayaan.