Bikin Surat Terbuka, Habib Ini Telanjangi Inventaris Isu Kelompok Radikal

0
275

Radar  Kontra – Seorang bernama Habib Husen Al Habsyi, mengirimkan suatu surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo terkait suksesi Panglima TNI menjelang masa pensiun Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.

Surat terbuka yang beredar melalu media percakapan daring Whatsapp dan Media Sosial itu memang belum diketahui kebenarannya apakah bersumber dari Habib yang terlibat dalam pengebom candi Borobudur tersebut.

Dalam surat terbuka tersebut dengan narasi kasar dan tanpa etika yang islami menyebutkan Presiden Jokowi akan mengganti Panglima TNI dengan calon besan yang sekarang menjabat sebagai KASAU, namun dibatalkan karena terungkapnya kasus mark up pembelian helikopter.

Segala bentuk provokasi dan isu-isu yang terungkap dalam surat terbuka ini seolah menjadi kumpulan inventarisasi dari provokasi oleh pihak-pihak yang selama ini membakar polemik isu impor senjata. Polemik senjata impor ini telah diselesaikan secara internal oleh instansi yang berwenang secara administratif tentunya sangat menyakitkan hati bagi pihak yang menginginkan perpecahan bangsa ini seperti Habib Ali ini.

Habib yang pernah berkonfrontasi langsung dengan para habib se Jawa Timur karena menyebut kewajiban memerangi Presiden Gus Dur di tahun 2001 lalu ini tentunya patut diwaspadai segala bentuk opini dan ujaran yang disebarkannya. Lebih jauh lagi, seorang Habib Achmad Zein Al Kaf menegaskan, sampai kapan pun habib tidak akan terlibat masalah politik. Bahkan, Habib Achmad siap membeberkan sosok Habib Husein Al Habsy yang tak ubahnya seperti makelar politik lain yang bersedia mengeluarkan pernyataan keras sesuai pesanan seperti dikuti dari liputan6 april 2001.

Habib ALI yang juga pernah mendekam di penjara akibat berbagai aksi radikalisme nya tentu tidak dapat lagi dipercaya untuk dapat menyumbangkan kedamaian hidup serta tujuan bangsa yang berkeadilan. Persatuan bangsa yang semakin kokoh tentu tidak dapat diterimanya.

Terkait isu reklamasi asumsi yang dibeberkan pun sangat tidak berdasar, karena reklamasi itu sendiri merupakan salah satu bagian proyek nasional sejak jaman Presiden Soeharto, bukan proyek yang baru muncul pada masa kepemimpinan Anies-Sandi.

Surat terbuka yang dibuat tersebut, bahkan secara jelas mengungkapkan sendiri betapa isu-isu yang disebutkan dalam surat tersebut adalah berasal dari kalangan para kelompok radikalisme itu sendiri. Persatuan dan kesatuan bangsa perlu terus ditingkatkan agar faham radikal tidak merusak kedaulatan bangsa. Oleh sebab itu masyarakat perlu mewaspadai pihak-pihak yang terafiliasi dengan kelompok radikal yang mengancam ketahanan nasional Indonesia, seperti Habib Husein Ali Al Habsyi yang pernah tersangkut kasus bom Borobudur.