Bungkam Pengkritik Indonesia Ternyata Dapat Keuntungan 2 Kali Lipat Dari Pertemuan IMF-WB

0
61
Bungkam Pengkritik Indonesia Ternyata Dapat Keuntungan 2 Kali Lipat Dari Pertemuan IMF-WB
Bungkam Pengkritik Indonesia Ternyata Dapat Keuntungan 2 Kali Lipat Dari Pertemuan IMF-WB

Kritikan pihak oposisi bahwa pertemuan IMF-World Bank hanya membuang-buang anggaran dan biaya untuk melayani puluhan ribu duta IMF dan Bank Dunia ternyata jauh panggang dari asap.

Presiden Joko Widodo secara langsung telah menjelaskan penggunaan dana terkait pertemuan IMF-World Bank yang digelar Bali.

Politisi Demokrat Andi Arief segera mencabut kritikannya segera setelah mengetahui perihal penggunaan biaya pertemuan tingkat dunia tersebut.

“Saya tarik semua kritik saya soal Pertemuan IMF Bali setelah saya dengar Pak Jokowi bilang bahwa IMF dan Bank Dunia yg membiayai pertemuan itu. Saya bener-bener kaget, sekali lagi kaget,” kata Andi Arief dalam cuitannya di akun twitternya @AndiArief__ , Selasa.

Dalam pemberitaan sebelumnya, Presiden Jokowi menjelaskan bahwa biaya yang dikeluarkan dipakai antara lain untuk memperluas apron di Bandara Bali dan membuat terowongan di persimpangan yang ada di Bali agar tidak macet.

“Artinya, setelah ini akan dipergunakan terus, terowongan juga dipergunakan terus, kemudian apron untuk bandaranya dipakai terus, bukan sesuatu yang hilang. Mereka (tamu undangan) membiayai sendiri kok, hotelnya bayar sendiri, makan juga bayar sendiri,” ungkap Presiden Jokowi setelah melakukan orasi ilmiah di Universitas Sumatera Utara, Medan, Senin (8/10).

Dalam penjelasannya Presiden menyebutkan bahwa hitung-hitungan biaya dan manfaat yang dikumpulkan dari berbagai sumber mengungkapkan bahwa anggaran yang tersedia sebesar Rp810 miliar, atas arahan Jokowi, telah dihemat dan hanya dipakai Rp566 miliar untuk pelaksanaan acara IMF-Bank Dunia selama tujuh hari.

Pemerintah hanya sekadar menanggung persiapan untuk para tamu yang hadir, bukan membayar keperluan tamu.

Untuk pemasukan jangka pendek, yakni pengeluaran pengunjung (delegasi dan non delegasi) yang berasal dari mancanegara maupun domestik mencapai Rp1,1 triliun (sumber: Bappenas, 2018).

Hitungan tersebut merupakan rata-rata pengeluaran peserta 150 dolar per hari selama tujuh hari menginap perkiraan awal jumlah delagasi 18.000 dan saat ini telah mencapai 34.000 delegasi.

Perkiraan rincian hitungan tersebut dari hotel dan penyelenggaraan IMF-Bank Dunia sebesar Rp943,5 miliar, makanan dan minuman Rp146 miliar, transportasi sebesar Rp74 miliar, belanja Rp5 miliar.

Sementara dari penyelenggaraan Meetings, Incentives, Conferences and Exhibitions (MICE), Indonesia Pavilion, Exhibition, Food festival, Art and craft expo, Infrastructure expo, Tourism booth, Indonesia gourmet and Food festival mampu menyumbang devisa hingga sebesar 43,2 juta dolar AS atau setara dengan Rp639,36 miliar.

Dengan demikian total Pemasukan diperkirakan Rp1,1 triliun ditambah Rp639,36 miliar, sehingga mencapai Rp1,7 triliun.

Dengan total pengeluaran pemerintah Rp566 miliar, maka untung penyelenggaran IMF-WB ini Rp1,13 triliun atau dua kali lipat dari biaya yang dikeluarkan.

Penyelenggaraan IMF-WB ini juga membuat Indonesia mendapat manfaat dalam Jangka Panjang, yakni meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Bali yang sempat menurun akibat Gunung Agung yang diperkirakan 0,64 persen, dari 5,9 persen menjadi 6,54 persen.

Sumber Bappenas menyebut kenaikan ini berasal dari sektor perhotelan (0,12 persen), makanan dan minuman (0,05 persen), konstruksi (0,26 persen), dan sektor lainnya (0,21 persen).

Perbaikan infrastruktur di Bali seperti, percepatan pembangunan underpass, pembangunan apron bandara, dan pengadaan perangkat teknologi informasi (IT) sebagai bentuk penunjang pariwisata di Bali kedepannya sebagai destinasi wisata Internasional.