Demi Rakyat, Prabowo Harus Jujur Soal Kemenangan 62 Persen

0
1157
Demi Rakyat, Prabowo Harus Jujur Soal Kemenangan 62 Persen

Demi rakyat, demi masa depan pemilu dan demokrasi kita yang lebih baik, pihak-pihak yang terlibat dan berperan dalam pemilu 2019 ini haruslah jujur.

Pemilu 2019 ini, utamanya pemilihan presiden, berbuntut ricuh. Paling tidak dari sisi politik. Setiap hari kepada masyarakat dipertontonkan silang pendapat yang keras, saling klaim siapa pemenang pilpres tahun ini.

Ejek-mengejek, sumpah serapah, kebencian dan sikap permusuhan seolah menjadi ”new normal” di negeri kita. Lihatlah perang antara kubu Jokowi dan kubu Prabowo di media sosial. Berita benar dan ”hoax” bercampur aduk, ”post-truth politics” mewarnai kehidupan masyarakat kita. Memang menyedihkan…., tapi itulah realitasnya.

Di sinilah pentingnya kejujuran. Kejujuran semua pihak sangat diperlukan, agar kebenaran dan keadilan benar-benar tegak di negeri ini.

Politikus Partai Demokrat, Andi Arief bersama Rachland Nashidik dan Jansen Sitindaon menulis sebuah pesan panjang berjudul “Jokowi, Prabowo dan AHY”, berisi permintaan kepada Prabowo Subianto agar jujur soal angka kemenangan 62 persen yang diklaim sejak usai hari pencoblosan Pilpres.

Mereka menuturkan, sejumlah testimoni dari pendukung Prabowo juga menunjukkan adanya keraguan perihal data dan angka 62 persen itu.

Ketiga kader Demokrat ini mengatakan bahwa SBY adalah seorang yang kuat dalam logika, cermat, dan berhati-hati dalam membenarkan atau tak membenarkan sesuatu. SBY juga dua kali menjadi calon presiden dan dua periode memerintah Indonesia.

“Tentu tak mungkin disuruh membebek dan membela secara membabi buta capres yang diusungnya itu kecuali akal sehat dan hati nuraninya meyakini klaim kemenangan Prabowo yang 62 persen itu kuat dan benar.”

Prabowo harus jujur, benarkah dia punya bukti nyata dan kuat bahwa dirinya menang 62 persen. Kalau tidak dosanya luar biasa. Karena, akibat pernyataan Prabowo itu jutaan orang meyakini dan bahkan siap mati untuk membela Prabowo, jika dia dinyatakan kalah oleh KPU. Bayangkan kalau jutaan orang itu nanti benar-benar nekad, melakukan perlawanan fisik dan akhirnya menjadi korban karena mempertahankan keyakinan yang salah, siapa yang bertanggung jawab? Tentu Prabowo.

Boleh saja dia mengkambing hitamkan pihak-pihak yang memberikan data atau bukti “kemenangan 62 persen itu”, tetapi tidakkah sebagai calon Presiden Prabowo mesti memiliki “judgement” atas dasar logika dan akal sehat, serta kecermatan dan kehati-hatian sebelum melakukan tindakan? Mudah-mudahan kenekadan para pendukung Prabowo tersebut tidak terjadi. Banyak pihak yang merasa lega, karena hari-hari terakhir ini tidak ada tanda-tanda kuat bahwa hal buruk itu akan terjadi.

Bahkan konon SBY, yang partainya juga mengusung Prabowo, hingga saat ini belum bisa diyakinkan bahwa Prabowo benar-benar menang 62 persen.

Kejujuran pihak-pihak lain juga diperlukan. Misalnya, apakah pihak yang saat ini habis-habisan mendesak Prabowo untuk tidak mengakui hasil pemilu, mendiskualifikasi Jokowi dan bahkan menyerukan revolusi dan “people power” itu benar-benar membela Prabowo, atau sasarannya yang penting pemerintahan Jokowi tumbang.

Apapun jalan dan alasannya. Ini tentu dua hal yang berbeda.