Dikasih Draf RUU KPK Aja Ditolak, KPK Apatis

2.176 Views

Semua orang di dunia ini memiliki hak untuk menentukan arah hidup yang diinginkannya. Begitu pula kita semua tanpa terkecuali. Lalu kenapa kita bisa merasa terlambat untuk menjadi sosok yang lebih baik?

waktu adalah soal bagaimana kita menggunakannya dengan baik. Semakin cepat kita memutuskan berubah dan menjadi orang yang lebih baik lagi, semakin efisien pula waktu itu kita habiskan.

Jadi, gak pernah ada kata terlambat untuk perubahan yang baik. Karena, menjadi baik bukan hal yang sulit, asal kita mau memulainya dari hati.

Perubahan inilah yang kini menjadi sulit bagi lebaga superbody KPK. Diarahkan ke arah yang lebih baik namun justru ditolaknya dengan mengkalim bahwa lembaga antirasuh sedang dibredel alias dibonsai independensinya.

KPK benar-benar tidak mau menerima kenyataan bahwa 17 tahun berjalan perlu adanya evaluasi dan revitalisai. Tapi tidak bagi para pimpinan KPK malah dengan congkaknya menolak usulan revisi UU KPK yang diinisiasi oleh DPR.

KPK pun dengan bangganya mempersembahkan kain hitam untuk menutupi logo KPK yang terpasang di gedung KPK. Tak hanya itu karangan bunga kematian pun menghiasi pelataran gedung KPK. Ini dilakukan sebagai bentuk penolakannya terhadap RUU KPK yang telah mendapat persetujuan dari Presiden Jokowi melalui Surat Presiden (Surpres) yang dikirim bersamaan dengan DIM. Artinya Pemerintah menyetujui pembahasan RUU KPK bersama DPR.

Namun lagi-lagi tiga pimpinan KPK, yakni Agus Rahardjo, Laode M Syarif, dan Saut Situmorang, menggelar konferensi pers. Mereka berbicara tentang penyerahan tanggung jawab pengelolaan KPK kepada Presiden Jokowi.

Mereka merasa tidak dilibatkan dalam proses penggodokan revisi UU KPK di DPR RI yang sudah disetujui Presiden Jokowi.

“Yang sangat kami prihatin dan mencemaskan adalah mengenai RUU KPK, karena sampai hari ini kami draf yang sebetulnya saja kami tidak mengetahui, jadi rasanya pembahasannya seperti sembunyi-sembunyi,” kata Ketua KPK Agus Rahardjo, Jumat (13/9/2019).

Agus lalu menegaskan bahwa mereka menyerahkan seluruh tanggung jawab pengelolaan KPK kepada Presiden Jokowi.

“Kami pimpinan, yang merupakan penanggung jawab tertinggi di KPK, dengan berat hati pada hari ini, Jumat, 13 September 2019, kami menyerahkan tanggung jawab pengelolaan KPK kepada Bapak Presiden RI. Kami menunggu perintah!”

Persoalannya bagaimana KPK mengetahui wong draf yang dikirimkan itu ditolak oleh para pimpinan. Kini KPK seolah sedang bermain menjadi korban alias Play Victim. Ironis sekali.

KPK benar-benar cengeng seperti anak kecil yang sedang dinasihati orang tua.

KPK seharusnya sadar bahwa Revisi UU KPK adalah sebuah keharusan. Karena selama ini KPK telah keluar dari jalur awal dan terkesang liar hilang kendali dan bermain sendiri tanpa koordinasi dalam penindakan pemberantasan korupsi. Mengutip pernyataan Wapres Jusuf Kalla bahwa banyaknya OTT bukanlah sebuah prestasi. Namun KPK tetap bahlelo dan tak mau dengar setiap saran ataupun masukan yang baik.

Bahkan Saut Situmorang dengan gagahnya menyatakan mundur dari jabatanya di KPK jika capim Firli ditetapkan sebgai pimpinan KPK yang baru untuk periode 2019-2023.

Pertanyaannya. Seperti inikah cara super hero menghadapi perubahan? Tapi lebih pas nya bahwa KPK tidak siap menghadapi perubahan! Atau memnag tidak mengerti substansi RUU KPK?

Bukan dengan karangan bunga dan batu nisan ataupun kain hitam maka KPK menjadi kuat dan dipercaya masyarakat. Bukan pula dengan menggerakkan LSM dan Publik agar KPK diperkuat dan mengkalim di Dzalimi.

Seharusnya KPK sadar diri bahwa pemeerintah menginginkan KPK yang idependensinya tak diganggu ataupun dibatasai kewengannya hal itulah yang ditekankan Presiden Jokowi beberapa hari lalu.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *