Dosa Besar Tim Mawar

0
118

Peran Prabowo Subianto di balik Tim Mawar terungkap. Dalam 34 dokumen rahasia Amerika Serikat, termuat rentetan laporan pada masa prareformasi. Poin paling penting adalah Prabowo memerintahkan Kopassus menghilangkan paksa sejumlah aktivis pada 1998. Selain itu, terdapat perpecahan di tubuh militer.
Dokumen-dokumen tersebut dirilis ke publik oleh lembaga Arsip Keamanan Nasional (NSA). Terdapat berbagai jenis laporan pada periode Agustus 1997 sampai Mei 1999. Sebagian merupakan percakapan staf Kedutaan AS di Jakarta dengan pejabat-pejabat Indonesia. Dokumen yang lain adalah laporan para diplomat mengenai situasi di Indonesia.
Salah satu dokumen merupakan telegram berisi percakapan antara Asisten Menteri Luar Negeri AS, Stanley Roth, dengan Komandan Kopassus, Mayor Jenderal Prabowo Subianto. Dalam pertemuan selama satu jam pada 6 November 1997, keduanya membahas situasi Indonesia. Prabowo mengatakan bahwa mertuanya, Presiden Suharto, tidak pernah mendapat pelatihan di luar negeri dan pendidikan formalnya pun sedikit. Namun, menurutnya, Suharto sangat pintar dan punya daya ingat tajam. Bagaimanapun, urai Prabowo, mertuanya tidak selalu bisa memahami persoalan dan tekanan dunia.
“Akan lebih baik jika Suharto mundur pada Maret 1998 dan negara ini bisa melalui proses transisi kekuasaan secara damai”, sebut Prabowo dalam dokumen itu.
“Apakah itu terjadi pada Maret atau perlu beberapa tahun lagi, era Suharto akan segera berakhir,” sambungnya.
Arsip tertanggal 7 Mei 1998 ini mengungkap catatan staf Kedutaan Besar AS di Jakarta mengenai nasib para aktivis yang tiba-tiba menghilang. Catatan itu memuat bahwa para aktivis yang menghilang boleh jadi ditahan di fasilitas Kopassus di jalan lama yang menghubungkan Jakarta dan Bogor. Hasil percakapan seorang staf politik Kedutaan Besar AS di Jakarta dengan seorang pemimpin organisasi mahasiswa memunculkan nama Prabowo Subianto.
Narasumber tersebut mengaku mendapat informasi dari Kopassus bahwa penghilangan paksa dilakukan Grup 4 Kopassus. Informasi itu juga menyebutkan bahwa terjadi konflik di antara divisi Kopassus bahwa Grup 4 masih dikendalikan Prabowo.
“Penghilangan itu diperintahkan Prabowo yang mengikuti perintah dari Presiden Soeharto,” sebut dokumen tersebut.
Pada masa kampanye pemilihan presiden 2014, Prabowo berulang kali menekankan dirinya tidak bersalah ketika rangkaian peristiwa 1998 terjadi dan mengatakan dia hanya menjalankan perintah atasan.
“Sebagai seorang prajurit, kami melakukan tugas kami sebaik-baiknya,” kata dia dalam debat capres pertama. “Itu merupakan perintah atasan saya.
Perpecahan di tubuh militer
Arsip yang dibuat pada 8 Mei 1998 ini melaporkan adanya perpecahan di tubuh militer Indonesia mengenai cara menghadapi para demonstran. Laporan ini menyebutkan Wiranto yang saat itu menjabat Panglima TNI diperintahkan bersikap tegas terhadap para demonstran. Dia kemudian memperingatkan para mahasiswa agar tidak menggelar demonstrasi di jalan-jalan, namun pada saat yang sama mengatakan kepada mereka bahwa militer tidak bermusuhan.
Susilo Bambang Yudhoyono, yang saat itu menjadi bawahan Wiranto, melontarkan ide untuk mengumpulkan semua anggota MPR demi menentukan masa depan negara (diduga menggantikan Suharto). “Jika benar, ini mengindikasikan niatan ‘Kubu Wiranto’,” sebut dokumen itu. Di sisi lain, Prabowo berupaya mencegah demonstrasi semakin ganas di Jakarta.
“Prabowo terlibat perebutan kekuasaan dengan Wiranto,” tulis arsip tersebut.
Dokumen-dokumen ini diungkap Arsip Keamanan Nasional dengan memanfaatkan Undang-Undang Kebebasan Informasi yang mengharuskan arsip rahasia diungkap setelah beberapa tahun. Arsip Keamanan Nasional sendiri merupakan sebuah lembaga yang bermarkas di Universitas George Washington dan didirikan secara swadaya oleh sejumlah akademisi dan jurnalis pada 1985.
Dalam 34 dokumen rahasia AS tersebut, terungkap bahwa Prabowo memerintahkan Tim Mawar Kopassus untuk menghilangkan paksa sejumlah aktivis pada 1998 atas perintah dari Presiden Soeharto. Arsip tertanggal 7 Mei 1998 mengungkapkan catatan kedutaan besar AS di Jakarta mengenai nasib para aktivis yang tiba-tiba menghilang, kemungkinan ditahan di fasilitas Kopassus di jalan lama yang menghubungkan Jakarta dan Bogor.