Ekonom Nilai Janji Sandiaga Sukar Terwujud

0
1054
Ekonom Nilai Janji Sandiaga Sukar Terwujud

Cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno menunjukkan ketidakpahamannya terhadap ekonomi global dan nasional. Sandiaga menyebut pertumbuhan ekonomi di era pemerintahan Joko Widodo stagnan di level 5%. Jika ia terpilih, ia berjanji akan membuat pertumbuhan ekonomi 6,5% dalam waktu dua tahun.

Pernyataan itu disambut negatif kalangan ekonom. Pertumbuhan ekonomi 6,5% dalam dua tahun sulit untuk dilakukan mengingat faktor eksternal seperti melambatnya pertumbuhan ekonomi global.

Ekonom CSIS Fajar B Hirawan menjelaskan faktor eksternal lebih menyebabkan mengapa pertumbuhan ekonomi 6,5% dalam jangka waktu 5 tahun ke depan sulit untuk dicapai. Hal ini menurut Fajar, karena perlambatan ekonomi global juga masih akan berlanjut hingga 5 tahun ke depan.

“Karena ekonomi besar di dunia, seperti Amerika Serikat (AS) dan China, secara bertahap terus mengoreksi pertumbuhan ekonominya,” ujar Fajar kepada detikFinance, Jumat (12/4/2019).

Dia mengungkapkan, contohnya AS yang sudah menurunkan pertumbuhan ekonominya hingga di bawah level 3% pada 2018-2019. Kemudian China yang juga telah menurunkan target pertumbuhan ekonominya hingga 6-6,5% pada 2019.

“Hal itu secara otomatis mengurangi lalu lintas perdagangan dunia, sebagai mitra dagang utama Indonesia, secara otomatis koreksi pertumbuhan ekonomi di kedua negara tersebut akan mengurangi kinerja ekspor Indonesia,” ungkap Fajar.

Faktor lain adalah harga minyak dunia yang cenderung meningkat, sementara harga komoditas belum menunjukkan peningkatan. Kemudian, normalisasi kebijakan moneter atau penyesuaian bunga bank sentral AS juga berdampak pada kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Meskipun ada tekanan dari eksternal, kinerja perekonomian Indonesia sudah menunjukkan hal yang positif. Misalnya perbaikan daya beli masyarakat yang ditunjukkan dengan inflasi umum yang turun dari 8,36% (2014) menjadi 3,13% (2018) dan bahkan inflasi bahan pangan yang turun dari 10,88% (2014) menjadi 3,39% (2018) merupakan salah satu bukti bahwa faktor internal sebenarnya cukup positif mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Selain itu, dari sektor fiskal, defisit APBN sudah turun dari 2,25% (2014) menjadi 1,76% (2018) ditambah keseimbangan primer yang turun dari Rp93,3 triliun (2014) menjadi Rp 1,8 triliun (2018) merupakan bukti lain bahwa kondisi internal jauh lebih baik,” kata dia.