Emak-Emak Elit Orba Pendukung Prabowo Turun Gunung Gunakan Agama Sebagai Aksesoris

0
363
Emak-Emak Elit Orba Pendukung Prabowo Turun Gunung Gunakan Agama Sebagai Aksesoris
Emak-Emak Elit Orba Pendukung Prabowo Turun Gunung Gunakan Agama Sebagai Aksesoris

Marak emak-emak seolah berjuang untuk kepentingan rakyat jelata padahal kenyataannya, hal itu hanya bagian dari tipuan yang tersembunyi. Dibungkus dengan perjuangan dengan sedikit menjual agama, rakyat pun dihasut dengan ujaran kebencian.

Setidaknya inlah yang dilakukan emak-emak yang sering berdemo dan tergabung di kubu Prabowo. Ternyata mereka adalah pemain lama dalam kontestasi politik yang juga disinyalir bagian dari masa orde baru.

Kalau sudah begitu, apakah kita-kita yang awam ini masih percaya bahwa mereka ini emak-emak yang berjuang memang demi rakyat dan demi agama?

Demi mengejar politik kekuasaan yang elit-elit itu turun gunung langsung dan memimpin beberapa aksi, agar supaya terlihat sebagai pejuang dari rakyat, mereka menggunakan agama sebagai aksesoris.

Jadi mereka adalah emak-emak yang haus akan fasilitas dari negara jika dekat dengan penguasa.

Pada 12 September 2018, ibu-ibu yang tergabung dalam Gerakan Emak-Emak Peduli Rakyat (Gempur) berdemonstrasi di depan Mabes Polri di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Aksi bersama Laskar Macan Asia itu mendesak Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian untuk mengusut pelaku persekusi Ustaz Abdul Somad yang saat itu ditolak di beberapa tempat saat mengisi ceramah.

“Kepolisian melakukan pembiaran. Untuk itu, kami sama emak-emak meminta distop,” kata Asmaizulfi, akrab disapa Fifi, koordinator lapangan Gempur.

Gempar disini, mereka sok peduli Islam, tapi ini adalah manuver saja untuk kelihatan bahwa mereka memperjuangkan Islam.

Asmaizulfi atau akrab disapa Fifi adalah koordinatot Gempur yang sangat jelas mendukung Prabowo, yang sudah kita tahu lahannya begitu luas dan sepertinya perlu dicek lagi apakah banyak masalah atau cara mendapatkannya bagaimana. Prabowo kan sangat dekat dengan kekuasaan Orde Baru,

Fifi juga pernah menggerakkan emak-emak mendemo Joko Widodo di depan Istana Negara pada 18 Juli 2018. Fifi dkk saat itu memakai nama Barisan Emak-Emak Militan Indonesia dalam unjuk rasa yang disebutnya ‘Aksi 187’, meniru penamaan ‘Aksi 212’ mobilisasi massa Islam yang berhasil memenjarakan Basuki Tjahaja Purnama, kolega politik Jokowi.

Fifi, juga menuntut pemerintahan Jokowi menurunkan harga bahan pokok hingga tarif dasar listrik, di antara barisan emak-emak yang membawa perkakas dapur rumah tangga. Aksi itu memakai mobil komando FPI, mobil yang sama saat dipakai Gempur dalam aksi di depan Mabes Polri.

Siapa Asmaizulfi?

Dia adalah istri Mayor Jenderal (Purn) Moerwanto Soeprapto, Ketua Yayasan Citra Handadari Utama, yang pernah menjabat sekjen Departemen Sosial pada masa Orde Baru. Yayasan ini bersengketa dengan Kementerian Sosial atas kepemilikan lahan dan pengelolaan Gedung Cawang Kencana di Jakarta Timur.

Mengurut kasus tersebut, lahan seluas 0,8 hektare itu dimiliki oleh Departemen Sosial yang dikelola Yayasan Dana Bhakti Kesejahteraan Sosial. Yayasan ini mendirikan Gedung Cawang Kencana dari dana judi Sumbangan Dana Sosial Berhadiah/Porkas, yang sangat terkenal pada 1980-an.

Pada 1999, Moerwanto, suami Fifi, mengalihkan pengelolaan gedung dan lahan tersebut ke yayasan miliknya, lalu disewakan ke pihak ketiga sehingga merugikan keuangan negara Rp726 juta, menurut putusan Mahkamah Agung pada Oktober 2014. Moerwanto divonis bersalah dan menjalani hukuman 4 tahun penjara.

Selain perkumpulan emak-emak yang diinisiasi oleh Fifi Asmaizulfi, kelompok ibu-ibu lain pendukung Prabowo-Sandiaga adalah Perkumpulan Persaudaraan Emak-Emak Indonesia (PMMI), yang dikomandoi oleh Asma Ratu Agung.

PMMI berdiri pada 17 September 2018 dan bermarkas di Jalan Mampang Prapatan II No. 32, Jakarta Selatan. Ide pendirian perkumpulan, sebagaimana tercatat dalam profilnya, “melakukan gerakan revolusi fungsional sesuai kapasitas dan otoritas yang dimiliki oleh seluruh lapisan emak-emak Indonesia … [demi] mengembangkan sistem politik dan demokrasi Indonesia … menuju ‘Rahmatan Lil Alamin’.”

Berselang hampir sebulan setelah resmi terdaftar di Ditjen Administrasi Hukum, Kementerian Hukum dan HAM, PMMI memiliki kepengurusan di 34 provinsi, 416 Kabupaten, 98 kota, dan 7.094 kecamatan.

Asma Ratu Agung, panglima PMMI, bukanlah orang baru dalam politik Pilpres sekarang saja.

Pada Juli 2017, nama Asma jadi sorotan media karena mengaku sebagai inisiator pendirian Partai Syariah 212 yang dideklarasikan di Gedung Juang 45, Jakarta Pusat. Ia juga masih tercatat dalam situs resmi ICMI sebagai wakil sekretaris dewan penasihat pusat periode 2015-2020.

ICMI, akronim dari Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, dibentuk pada 1990 di masa Soeharto memandang gerakan kelompok Islam semakin penting dirangkul demi menyokong pemerintahan Orde Baru. Ketua umum pengurus pusat ICMI Jimly Asshiddiqie pernah melantik Sandiaga Uno sebagai Ketua ICMI DKI Jakarta pada 7 Desember 2018.