Fakta Kaum Perempuan Habis Manis Sepah Dibuang Oleh Prabowo

0
2003

Radarkontra – Setelah berturut-turut para simpatisan dan pendukung capres Paslon no urut 02 Prabowo Subianto – Sandiaga Uno terjerat pidana ujaran kebencian dan pelanggaran UU ITE serta penyebaran fitnah, tentunya kita semakin patut bersedih ketika ada banyak pelaku hoax dan fitnah di medsos berasal dari kalangan emak-emak. Tukang gosip memang tak tergantung kelamin tertentu, tapi fakta di lapangan, kaum hawa memang lebih banyak melakukannya.

Oleh sebab itu, banyak dari mereka yang terjebak. Dan kita patut kasihan pada kepolosan mereka. Sejatinya, mereka hanya dimanfaatkan.

Prabowo dan pendukungnya memang gemar menghalalkan segala cara. Mereka sudah kehilangan rasa malu. Walau data-data ngibul bin palsu yang dipaparkannya semakin sering terbukti. Selain termasuk sebagai mafia tanah ratusan ribu hektare, ia terbiasa hidup dalam gelimang kemewahan sejak kecil.

Semakin parah ia juga tak punya kesetiaan pada relawannya sendiri. Kasus kelompok saracen yang secara sistematis dan terstruktur sejak 2016 mengdiskreditkan pemerintahan Jokowi-JK dan fitnah serta penghinaan kepada Presiden Jokowi. Termasuk kasus hoax Ratna Sarumpaet yang masih merupakan anggota BPN Prabowo-Sandi saat melakukan kebohongan luar biasa tersebut. Ratna adalah perempuan sama seperti yang lainnya. Seorang ibu dan aktor berbakat. Tetapi kepentingan politik menggelincirkannya sedemikian rupa.

Maksudnya mungkin ingin mengambil hati Prabowo, ingin menunjukkan jasa. Apa daya Ratna hanya dimanfaatkannya. Habis manis sepah dibuang.

Bagi Prabowo dan elit Partai Gerindra, jika masih bermanfaat, ia akan terus pura-pura membela. Istri Ahmad Dhani misalnya, Prabowo mengucapkan keprihatinan kepadanya malam hari. Waktu yang kurang etis bagi budaya timur kita, kecuali didampingi suaminya. Semua itu demi citra membela relawannya.

Prabowo membela Dhani melalui istrinya, karena menghitung Dhani masih bisa mengeruk suara. Nama Dhani dalam radar politik Prabowo masih bisa menaikkan suaranya. Selain itu, citranya mengayomi akan terlihat. Tapi tidak dengan Ratna. Membela Ratna merugikannya secara politik.

Oleh sebab itu Ratna Sarumpaet dibuang seperti anjing kurap tak berharga.

Kasus terbaru adalah trio perempuan PEPES penyebar hoax di Jawa Barat. Awalnya, ketika bertemu Fadli Zon, mungkin mereka merasa berlindung di balik benteng yang kokoh. Padahal Fadli Zon itu hanya cecunguk di pentas nasional. Ia hanya orang yang menumpang pada Prabowo. Orang yang dipungut dari pinggir jalan. Fadli Zon tak punya kekuatan sedikitpun untuk membela mereka.

Tiga perempuan itu juga hanya perempuan biasa. Mungkin mereka relawan, tapi tak terdaftar di KPU sebagai relawan resmi. Sejak awal mereka telah masuk ke perangkap politik Prabowo. Dengan tidak terdaftar itu, kelompok Prabowo akan dengan mudah cuci tangan bila mereka mendapat masalah.

Doktrin yang mereka terima mungkin dibolehkan menghalalkan segala cara. Termasuk mengarang bebas soal pelarangan azan dan pelegalan LGBT. Mereka tidak tahu bahwa, jika berurusan dengan hukum, keluarga mereka sendiri yang menjadi susah.

Prabowo adiknya Hashim dan kacungnya, Fadli Zon, tidak akan mempedulikan lagi. Mengurus tiga orang itu tidak menguntungkan. Hubungan bawah meja mereka harus dikubur rapat-rapat. Jangan sampai swing voter tahu, kalau Prabowo menghalalkan hoax dan fitnah keji dalam kampanyenya.

Kasihan emak-emak itu. Mungkin mereka mendapat uang operasional sedikit. Tapi itu tidak sepadan dengan rusaknya nama baik, dengan hilangnya kebebasan dan dosa yang harus mereka terima. Uang tak seberapa itu tentu mereka sesali mulai sekarang dan seumur hidup.

Mengingat hal ini, tentu yang mesti dikutuk adalah Prabowo dan tim kampanye mereka yang mengumpankan emak-emak. Sungguh cara berpolitik yang keji. Emak-emak dengan segala keterbatasan dicuci otak mereka. Lalu dimanfaatkan demi kepentingan politik. Itukah yang namanya berjiwa patriot?

Emak-emak itu mungkin menjiwai brainswashing yang dilakukan kepada mereka. Dan menganggap semua fitnah itu fakta. Atau mereka tahu itu memang fitnah, tapi ada yang berjanji akan melindungi mereka. Hasilnya, setelah kampanye sukses dilakukan, mereka yang terkena getahnya.

Hal itu persis seperti kejadian pengantin teroris. Mereka dirayu, diiming-imingi sorga, diberi imbalan kecukupan harta, lalu disuruh meledakkan diri. Setelah bom meledak, pimpinan tertawa ngakak di belakangnya.

Janji tinggal janji. Sorga yang diharapkan, neraka yang didapatkan. Nasib emak-emak hoax Prabowo persis seperti itu. Sekarang mereka mendapatkan neraka dunia. Neraka akherat, tentu lebih kejam lagi nanti.

Untuk itu, kepada seluruh emak-emak Indonesia, jauhi dari perangkap busuk Prabowo. Jangan mau mengkampanyekan hoax dan fitnah. Selamatkan diri dan keluargamu. Tidak perlu cerdas agar selamat dari dajalisme semacam itu. Yang diperlukan hanyalah kewarasan.

Emak-emak Indonesia, bersatulah! Hoax dan fitnah itu dosa, sekaligus melanggar hukum. Lantai penjara yang dingin menunggu punggungmu. Cap buruk dari masyarakat akan kalian terima sesudahnya.

Emak-emak, sayangi diri dan keluargamu. Hiduplah dengan damai. Jauhi Prabowo dan tentaranya yang suka mendoktrin kesesatan. Politik itu kejam dan menyengsarakan bagi kalian yang polos. Jagalah diri dan keluargamu dari jilatan api neraka di akhir zaman karena fitnah.