Fakta Polisi di Pam 299 Bertindak Humanis tanpa Senjata

0
262

JAKARTA – Munculnya meme mengenai pembatasan waktu demo 299 berbanding pendemo pro Ahok mesti dilihat secara komprehensif dan bernalar dingin tanpa prasangka tendensius berlebihan.

Jika kita flashback pengamanan Polri terhadap demo pro Ahok, pihak kepolisian memiliki argumen yang mengedepankan rasa kemanusiaan karena para pendemo lebih banyak anak dan perempuan. Aparat Kepolisian memiliki jawaban atas perbedaan perlakuan antara dua massa yang kontra Ahok dan pro Ahok. Seperti pernyataan Kapolres Jakarta Timur Andry Wibowo yang menyebutkan pihaknya tidak membubarkan aksi pro-Ahok di depan LP Cipinang memertimbangan berbagai hal seperti lokasi, struktur massa yang tidak sedikit massa terdiri dari perempuan dan anak-anak. “Polisi melihat sisi lain yakni medan, taktis, stuktur massa. Itu (yang demo) perempuan dan anak-anak semua,” ujar Andry beberapa waktu lalu.

Pada akhirnya publik dengan mudah membandingkan perlakuan polisi terhadap dua aksi yang saling bertolak belakang tersebut. Argumentasi aparat kepolisian dalam penanganan massa pro Ahok tentu memiliki pijakan tersendiri dengan perspektif polisi.

Polisi dalam penanganan demo bersikap profesional yang menempatkan siapapun sama di mata hukum. Massa saat demo di LP Cipinang ini ricuh..

“Persuasif, preemtif, kemudian juga represif. Kemudian pemilihan itu disesuaikan di lapangan,” ujarnya menambahkan.

Untuk itu, menurut Andry jika pembubaran paksa dilakukan pada aksi massa Pro-Ahok itu, polisi khawatir akan jatuh korban jiwa. Pada demo-demo sebelumnya seperti Aksi 212, 411 dan Aksi Simpatik 55, polisi membatasi waktu sampai pukul 18.00 WIB. Melebihi waktu itu, polisi akan melakukan pembubaran.

Aksi tegas lainya  terhadap massa pro AHok, Ada delapan pria yang ditangkap selama aksi damai pendukung Ahok di Pengadilan Tinggi Negeri Jakarta, Jumat (12/5/2017).

Hal itu disampaikan oleh Kapolres Jakarta Pusat Kombes Suyudi Ario Seto.

“Yang diamankan ada delapan orang,” ujar Suyudi di depan Pengadilan Tinggi Negeri Jakarta.

Alasan delapan orang tersebut ditangkap karena diduga melakukan provokasi terhadap massa. Karena itu aparat kepolisian dari Polres Jakarta Pusat segera mengamankan

“Diduga dia yang memprovokasi massa, makanya kita amankan dulu,” ungkap Suyudi beberapa waktu lalu.

Munculnya meme yang membandingkan pengamanan dan pembatasan waktu cukup bisa dilihat dari persepktif prioritas pengamanan terutama lokasi, dan ketertiban serta kuantitas dan kualitas pendemo. Jelas perbedaan jumlah massa yang rawan rusuh dapat mengakibatkan gangguang publik yang meluas tentunya menjadi waktu prioritas jam 18.00 sebagai batas akhir pendemo aksi 299 di depan gedung DPR RI.

Perlu digarisbawahai bahwa Kepolisian Republik Indonesia (Polri) memastikan aparat yang mengamankan aksi damai “299” di depan Gedung DPR/MPR RI tidak membawa senjata api.

“Ada arahan khusus, pasti yang jelas kita tidak boleh membawa senjata api, melayani dan mengamankan aksi damai sebagai implementasi demokrasi,” kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Polisi Setyo Wasisto di Jakarta, Jumat.

Setyo menjelaskan aparat kepolisian akan mendapat bantuan TNI dalam mengamankan aksi massa untuk menyampaikan penolakan terhadap Peraturan Pemerintah Pengganti Perundang-Undangan tentang Organisasi Masyarakat (Perppu Ormas) dan kebangkitan PKI.

Selain itu, Pasukan Asmaul Husna ini juga diturunkan, bukan sembarangan pasukan. Mereka memang hafal asmaul husna atau nama-nama Allah yang 99. Mereka mendapat latihan khusus dari seorang ustaz.
Jumlah pasukan asmaul husna ini ada 299 orang. Mereka anggota Brimob yang berasal dari berbagai daerah. Sepak terjang pasukan Asmaul Husna ini juga sudah terbukti.