Gak Tulus, Permintaan Maaf Prabowo Soal Tampang Boyolali Berdasarkan Kepentingan Politik

0
50
Gak Tulus, Permintaan Maaf Prabowo Soal Tampang Boyolali Berdasarkan Kepentingan Politik
Gak Tulus, Permintaan Maaf Prabowo Soal Tampang Boyolali Berdasarkan Kepentingan Politik

Ketua DPP Partai Hanura Inas Nasrullah Zubir menilai, permintaan maaf Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto soal tampang Boyolali tidak berasal dari hati nurani. Melainkan berdasarkan kepentingan politis.

“Minta maafnya Prabowo bukanlah minta maaf yang meluncur dari nuraninya, melainkan minta maaf politis,” ujarnya seperti dikutip merdeka.com, Rabu (7/11).

Inas menyebut, bahwa Prabowo pasti sudah mengkalkulasi untung dan ruginya. Apalagi desakan warga Boyolali yang memprotes pelecehan yang dilakukan Prabowo telah membuat mereka kecewa.

“Permintaan maaf tersebut dilakukan setelah mengkalkulasi dulu untung ruginya,” Ucap Inas.

Inas menambahkan, ini bukan kali pertama Mantan Danjen Kopassus itu mencaci maki atau melecehkan orang lain. Menurutnya, sikap seperti itu sudah menjadi kebiasaan Prabowo.

“Kalau kita mencermati pernyataan-pernyataannya yang bernada caci maki dan pelecehan yang berulang kali terjadi, maka hal tersebut sudah menjadi habitnya Prabowo,” kata dia.

Setidaknya, ada sederet prilaku arogan seorang Prabowo yang melekat dalam dirinya. Anggota Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf ini lantas membeberkan sederet ucapan Prabowo yang kontoversial.

Pertama, saat di Gedung Intan Balarea, Jalan Patriot, Garut, Jumat, 25 Oktober 2013 lalu Prabowo menyebut, ‘Kalau hakim agung, hakim Mahkamah Konstitusi bisa disogok, apalagi wartawan. Sama saja’.

Kemudian pada tahun 2014 di acara PKS, Prabowo mengatakan, ‘bangsa Indonesia kadang-kadang naif, lugu dan Goblok’. Lalu Prabowo juga mengatakan kepada para wartawan ‘gaji kalian kecil, muka kalian gak belanja di mall’.

Selain itu, ketika kampanye Pilkada Jabar, Prabowo menyatakan bahwa ‘Elit-elit di Jakarta maling semua’. Dan terbaru ini Prabowo menganalogikan kemiskinan dengan tampang Boyolali.

“Cukup jelas bahwa kebiasaan ini akan berulang dan berulang lagi, apakah Prabowo mampu mengerem kebiasaannya ini? Kita lihat dalam enam bulan ke depan,” jelas dia.

Seperti diektahui, dalam pernyataan maafnya, Prabowo menjelaskan, tidak ada niat sedikitpun untuk menghina warga Boyolali. Menurut dia, konteks bicaranya sebagai seorang keluarga dengan para pendukung yang hadir pada waktu itu.

“Cara saya kalau bicara familier, istilahnya mungkin bahasa sebagai seorang teman. Audiens pada waktu itu enggak terlalu besar paling hanya 400-500an orang, kader dari partai koalisi, peresmian kantor pemenangan,” jelas Prabowo.

Prabowo juga menjelaskan, saat itu dia bicara hampir satu jam. Tapi video yang beredar hanya dua menit. Konteks yang dibicarakan pada waktu itu terkait kondisi kesenjangan yang terjadi di Indonesia. Yang menurut dia, disparitas yang terjadi antara si kaya dan si miskin semakin lebar.

Dia pun heran, maksudnya untuk melucu malah menjadi persoalan. Menurut dia, Pilpres 2019 akan membosankan apabila tak boleh ada candaan.

“Kalau kita enggak boleh melucu, seloroh, joking, enggak boleh bercanda, ya bosen tidurlah nanti semua capek, mereka kasihan, saya kira begitu maksud saya,” kata Prabowo.

“Kalau saya tampang Bojong Koneng terima kasihlah. Ya tapi kalau saya, maksud saya tidak negatif, tapi kalau ada yang merasa tersinggung saya minta maaf, maksud saya tidak seperti itu,” jelas Prabowo.