Ganjar : Ada Dua Komponen yang Bisa Menurunkan Kemiskinan

0
173

Radarkontra – Calon Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengungkapkan bagaimana mengatasi persoalan kemiskinan. Menurutnya, pendidikan menjadi tonggak utama dalam pengentasan kemiskinan.

Berdasarkan pengalaman dan data yang dimiliknya, ada dua komponen yang bisa menurunkan kemiskinan sebagai sebuah investasi jangka panjang, yakni pertama pendidikan, kemudian yang kedua kesehatan.

“Investasi, infrastruktur, akses modal dan lainnya menjadi nomor ke sekian,” katanya saat menyapa warga Jateng lewat siaran di Radio Republik Indonesia Pro 1 Semarang, Rabu (2/5).

Mengenai pendidikan sebagai tonggak utama atau jalan keluar dalam pengentasan kemiskinan itu sendiri, Ganjar mengaku memiliki bukti nyata. Yakni, kisah masa lalunya dan keluarga yang pernah terlilit kemiskinan, sebagaimana kisah dirinya.

“Saya contohkan diri saya, bapakku lulusan Vervolgschool, SD zaman dulu yang tidak sampai kelas 6, ibu hanya lulusan SMP. Bapak bekerja sebagai polisi, polisi rendahan. Artinya apa? Kami (keluarga) tidak mampu,” ujarnya.

Pasangan Taj Yasin dalam Pilgub Jateng 2018 itu mengakui, untuk keluar dari label keluarga tidak mampu tersebut, Ganjar menegaskan orangtuanya bertekad menyekolahkan enam anak setinggi-tingginya.

“Ada tiga yang akhirnya menyelesaikan S1 (sarjana), bapak saya bilang, jika ada yang ingin melanjutkan, melanjutkan saja namun biaya sendiri. Maka kakak saya sampai S3, saya dan adik sampai S2,” kata cagub Jateng nomor urut 2 ini.

Berkaca dari itu, sebagai calon petahana, selama ini Ganjar mengklaim telah mengeluarkan berbagai kebijakan penting demi kemajuan pendidikan di Jawa Tengah. Di mana ia sebutkan untuk provinsinya telah dianggarkan total Rp 11,9 triliun.

Menurut politisi berambut putih itu, Pemerintah Provinsi saat ini pun memiliki wewenang lebih luas terhadap pendidikan warganya setelah mengambil alih pengelolaan SMA dan SMK. Sebagai bentuk tanggung jawab, Pemprov Jateng kini mengalokasikan subsidi Rp 1 juta per siswa per tahun.

Selain itu pula, Ganjar bilang di bawah kepemimpinannya, provinsinya juga telah melahirkan SMK Jateng pada 2 Juni 2014, sekolah yang dikhususkan untuk siswa berprestasi dengan tingkat perekonomian keluarga yang rendah.

Dikatakannya, di sekolah boarding atau layanan publik milik Pemprov Jateng ini siswa tidak dikenakan biaya apapun alias gratis. Karena semuanya sudah dibiayai APBD Provinsi Jateng. Sampai saat ini SMK Jateng telah dibuka di tiga tempat, Semarang, Pati dan Purbalingga.

Berbanding dengan yang dialami Ganjar, bahwa pendidikan merupakan jalan keluar kemiskinan. Saat ini, ketika lulusan SMK lain kebingungan mencari kerja, di SMK Jateng justru bingung memutuskan tawaran perusahaan.

Pada wisuda lulusan pertama 17 Juni 2017 lalu, perwakilan belasan perusahan ikut hadir dan langsung menawarkan pekerjaan. Di antaranya jajaran direksi PT Hitachi, PT Astra, PT Komatsu, sejumlah perusahaan garmen, perusahaan suku cadang alat berat, dan pimpinan BUMD di Jateng.

“Artinya, kami akhirnya yang merubah nasib keluarga. Dan hal tersebut sebagai bukti pendidikan menjadi pintu keluar kemiskinan,” paparnya.