Habib Saggaf: Orang-orang yang Memfitnah Pemerintah Itu Seharusnya Diusir dari Indonesia

0
340

Radarkontra – Fenomena tukang fitnah, penghasut atau pembenci  kemunculannya tak dapat dipungkiri terutama menjelang pesta demokrasi. Biasanya orang semacam ini berkumpul dan membentuk kelompok untuk menyerang pemerintah.

Ketidaksukaannya menjadi bumbu penyedap yang harum agar lidah-lidah mereka terpuaskan dengan serangan-serangan untuk mendeskriditkan pemerintah.

Sebuah kenyataan bahwa ada orang maupun kelompok yang selalu melancarkan upaya-upaya untuk menggembosi pemerintah yang sah di Indonesia. Kelompok ini tak akan berhenti sampai keinginannya terwujud. Entah siapa penggerak abadi kebenciann ini. Namun yang pasti mereka adaalah orang yang berseberangan dengan pemerintah.

Mereka memiliki tujuan yang tentu beragam pula. Sebut saja dengan kelompok yang bertujuan menegakkan Khilafah Islamiyah seperti halnya HTI, ISIS dan teroris. Kelompok semacam ini tiada henti mencitra burukkan pemerintah dengan berbagai opini agar masyarakat tidak suka terhadap pemerintah.

Tak hanya itu adapula kelompok lainnya yang memang gemar menyerang dan menciptakan kegaduhan agar seolah pemerintah itu tidak berpihak kepada rakyat lalu kemudian rakyat dan pemerintah di adu domba. Karena sejatinya kita sebagai makhluk sempurna ciptaan Allah, jangan mau untuk diadu domba.

Dengan orang-orang atau kelompok semcam ini, Habib Saggaf bin Mahdi BAS memberikan peringatan kepada masyarakat khususnya untuk umat Islam di Indonesia. Sebagaimana pesan itu disampaikan melalui sebuah banner berukuran besar.

Berikut isi petikan itu:

“Siapapun pemimpin di negara ini dia adalah orang terbaik yang dipilih Allah. Soal dipilih rakyat itu hanya sebab musabab. Karena yang menggerakkan hati mereka untuk memilih adalah Allah.”

“Jadi orang-orang yang suka memfitnah pemerintah,  teroris orang yang suka menghasut untuk membenci kepada pemerintah dan bikin kacau negara ini mereka itu adalah pemberontak yang seharusnya diusir dari Indonesia.”

“Jangan mau di adu domba karena kita manusia bukan domba.”