Hut Kemerdekaan RI Tanpa Semangat Persatuan, Rachmawati Malah Kampanye Pilpres

0
131
Hut Kemerdekaan RI Tanpa Semangat Persatuan, Rachmawati Malah Kampanye Pilpres
Hut Kemerdekaan RI Tanpa Semangat Persatuan, Rachmawati Malah Kampanye Pilpres

Putri Proklamator Sukarno, Rachmawati Soekarnoputri, menyampaikan pesan yang tidak mengandung persatuan dan kesatuan pada upacara HUT Kemerdekaan RI yang ke-73 dengan mengangkat tema ‘vivere Pericoloso’ yang artinya ‘tahun menyerempet bahaya’.

Ditengah suasana kemerdekaan yang dirayakan seluruh masyarakat Indonesia, Rachmawati bahkan tidak memberikan semangat membangun bangsa. Terkesan memprovokasi rakyat dengan mengaitkan Pilpres.

“Izinkan, Tahun Vivere Pericoloso seperti Bung Karno 1964. Artinya tahun kita menyerempet berbahaya,” kata Rachmawati di Kampus UBK, Jl Kimia, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (17/8/2018).

Ia bahkan berpesan agar masyarakat Indonesia tak salah pilih pemimpin. Padahal kampanye Pilpres belum juga dimulai. Hal tersebut menunjukkan bahwa Rachmawati hanya memanfaatkan perayaan hari kemerdekaan Indonesia untuk memberikan pesan politik kelompoknya.

Secara terbuka ia menyatakan dukungannya terhadap Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno dalam Pilpres 2019 dan menyampaikan agar masyarakat tidak memilih pemimpin yang menjadi antek kepentingan asing dengan paham neoliberalis.

Upacara tersebut dihadiri pasangan capres-cawapres Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Tak hanya itu, hadir juga politikus senior PAN Amien Rais, Wakil Ketua Dewan Pembina Gerindra Hashim Djojohadikusumo, anggota Dewan Pembina Gerindra Djoko Susanto, dan Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Berkarya Titiek Soeharto.

“Saya ingatkan dan tegaskan kepada seluruh rakyat Indonesia, jangan salah memilih pemimpin,” ucapnya.

Pernyataan Rachmati yang mengatakan ‘Vivere Pericoloso’ seolah-olah NKRI dalam bahaya dan tidak akan lama lagi akan bubar sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Prabowo Subianto bahwa Indonesia bubar pada tahun 2030.

Ketakutan seperti ini seharusnya tidak disebarkan. Pernyataan ini jelas merupakan provokasi yang tidak sesuai dengan semangat demokrasi di Indonesia.

Dalam pidato 17 Agustus 1964, Bung Karno mengemukakan prinsip Trisakti Tavip (Tahun Vivere Pericoloso). Di sini ia menjelaskan tiga prinsip berdikari. Yakni, berdaulat dalam bidang politik, berdikari dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan. Menurut Bung karno, ketiga prinsip berdikari ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Bung Karno mengatakan, tidak mungkin akan ada kedaulatan dalam politik dan berkepribadian dalam kebudayaan, bila tidak berdirikari dalam ekonomi. Demikian pula sebaliknya.

Vivere Pericoloso adalah frasa yang dipilih oleh Bung Karno pada HUT Kemerdekaan RI Tahun 1964 karena pada saat itu keadaan Sosial, Ekonomi dan Politik Indonesia masih sangat kacau balau. Hanya para elite yang haus kekuasaan yang menginginkan situasi Negara selalu dalam kacau balau tanpa peduli kepada kesejahteraan dan keamanan di tingkat rakyat.

Sebagai bagian dari Negeri ini, kita semua wajib mendukung program Pemerintah yang sedang dilakukan untuk mengatasi setiap persoalan bangsa. Kita harus bisa menjadi masyarakat yang membuat negara tercinta kita maju, makmur, tenang dan tenteram serta berkeadilan dengan ikut mendukung Pemerintah secara tulus dan total.

Negara kita telah banyak mengalami kamajaun namun bukan berarti tanpa permasalahan. Karena itu kita harus yakin dan mampu membuat perubahan untuk bangsa yang sangat kita cintai, perubahan yang menuju kebaikan, menuju kemuliaan sesuai cita cita para pejuang. Setidaknya mari kita dukung Presiden Jokowi menuntaskan masa kerjanya hingga 2019 untuk membawa Indonesia lebih aman dan sejahtera.