Indonesia jadi yang Terbaik Layani Kesehatan Jamaah Haji

0
72

Radarkontra – Peserta Jemaah haji tahun ini sangat puas dengan pelayanan haji yang diberikan pemerintahan Kabinet Kerja Jokowi-JK. Mereka pun mengucapkan terimakasih kepada pemerintah yang sudah mempersiapkan ibadah haji dengan sangat baik.

Memasuki hari kesembilan fase pemulangan jemaah haji ke Indonesia, banyak dari mereka yang menyatakan kepuasan atas layanan yang diberikan pemerintah selama di Tanah Suci.

“Alhamdulillah saya sangat senang dengan layanan pemerintah dari awal hingga akhir,” ujar haji kloter SOC-027 Emi Masruroh di Hotel Ummul Qura, Mahbas Jin, Makkah, seperti dikutip dari laman www.haji.kemenag.go.id, Rabu (5/9/2018).

Kepada tim Media Center Haji Daerah Kerja (MCH Daker) Makkah, Emi bercerita sangat menikmati layanan transportasi, akomodasi, dan katering serta tempat tinggal.

“Sejak di Madinah, Makkah dan Arafah, Muzdalifah, Mina (Armuzna) bagi saya layanan yang diberikan luar biasa bagusnya. Pemerintah membuktikan komitmen layanan dan janjinya kepada kami seluruh jemaah haji Indonesia,” ucap istri Wakil Bupati Bantul Abdul Halim Muslih itu.

Hal senada juga diungkapkan haji lain, yaitu Abdul Mustaqim. Abdul menilai, layanan yang diterima jemaah nyaman dan bagus.

“Layanan ibadah haji tahun ini bagi kami telah memuaskan. Transportasi nyaman, busnya juga bagus,” ucapnya.

Sementara jemaah lainnya, pasangan suami istri Cahyo Widodo dan Tri Suprihatin, sepakat bahwa layanan sudah bagus.

“Apalagi layanan kesehatan, kami mudah mendapatkan obat,” kata keduanya sumringah.

Mereka pun mengaku sangat senang dengan layanan yang diberikan selama di Tanah Suci. Bahkan pada haji kali ini jamaah haji bisa berkeliling kota Mekah. Ia juga puas dengan pelayanan hotel pada haji tahun ini.

Indonesia Terbaik Layani Kesehatan Jemaah

Sementara Ada lebih dari 30 negara diundang oleh Kementerian Haji Arab Saudi untuk diberikan apresiasi atas pelayanan kesehatan kepada jamaah haji negara masing-masing. Selain Indonesia, beberapa negara yang diundang di antaranya adalah Malaysia, Pakistan, India, Oman, Thailand, Turki, Iran, Irak, Nigeria, Kazakhstan, dan Cina.Secara lisan disampaikan bahwa Indonesia terbaik dalam memberikan pelayanan kesehatan haji, diikuti Malaysia. Namun peringkat Indonesia jauh lebih tinggi dibanding Malaysia.

Sebelum memberikan apresiasi, tim dari Pemerintah Arab Saudi sudah berkali-kali meninjau ke Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah, baik dari Kementerian Kesehatan maupun dari Kementerian Urusan Haji.

”Mereka datang untuk melihat perizinan, sarana dan prasarana, serta pelayanan kepada jamaah haji kita. Mereka menilai bagus apa yang kita lakukan untuk memberikan pelayanan kesehatan sehingga kita diberikan apresiasi,” kata Kabid Kesehatan dr. Melzan Dharmayuli di Makkah.

Satu hari sebelum Arafah, Kepala Kantor Urusan Misi Kesehatan Haji, Kementerian Kesehatan Makkah datang ke KKKHI di Mekkah dan menyampaikan untuk melihat langsung fasilitas pelayanan kesehatan Indonesia yang menurutnya adalah yang terbaik di antara negara-negara yang memberikan pelayanan kepada jamaah hajinya.

Pelayanan kesehatan haji mulai dari dokter di setiap kloter, kemudian di sektor ada Tim Gerak Cepat (TGC) ada juga Tim Promotif  Preventif (TPP) dan SDM serta fasilitas di KKHI Makkah yang banyak dokter spesialisnya.

Kepala Seksi Kesehatan Makkah dr. M. Imran menegaskan kesiapan tim kesehatan Indonesia ada di semua lini.

”Pemerintah Indonesia dinilai paling inovatif jauh di atas ekspektasi mereka seperti misalnya kita menyiapkan APD, kacamata, kipas, sendal. Inovasi kita dinilai lebih baik dari negara lain. Kita tidak hanya menyediakan dokter dan perawat saja,” tambah Imran.

Tahun lalu Indonesia mendapatkan penghargaan Health Ambassador dari Kementerian Kesehatan. Tahun ini negara kita mendapatkan penghargaan dari Kementerian Urusan Haji.

”Saya nilai bobotnya lebih tinggi ketika diperiksa oleh Kementerian Urusan Haji dibanding dengan Kementerian Kesehatan Arab Saudi. Mereka bisa datang dua sampai tiga kali seminggu untuk melakukan sidak (inspeksi mendadak). Kadang malam atau pagi untuk melakukan sidak untuk memastikan bahwa standar yang mereka terapkan kita laksanakan,” jelas Melzan.

Penilaian kesehatan mulai dilihat sejak dari Bandara, di pondokan, di masjid, di bus sholawat.

”Petugas kita ada di mana-mana kita melindungi. Jemaah tidak melepas kemana-mana. Sementara negara lain hanya ada di klinik, menunggu jemaah sakit, tidak sampai seperti kita turun ke jemaah langsung menjemput bola. Kita tidak hanya menunggu jamaah sakit tetapi melakukan intervensi langsung sampai ke jamaah,” tambah Melzan.