Kalteng Rawan Dijadikan Tempat Persembunyian dan Latihan Teroris Pasca Penumpasan Teroris di Aceh dan Poso

Kalteng Rawan Dijadikan Tempat Persembunyian dan Latihan Teroris Pasca Penumpasan Teroris di Aceh dan Poso
89 Views

Pasca penumpasan teroris di Aceh dan Poso, kelompok teroris JAD terus mencari tempat baru. JAD berpencar dan kabur ke daerah-darah pelosok untuk bersembunyi.

Pelarian teroris Aceh ke kalimantan Tengah (Kalteng) terbukti dari penangkapan 33 terduga teroris di Palangka Raya dan Kabupaten Gunung Mas.

Kini, Kalteng rawan menjadi tempat pelarian dan persembunyian teroris. Terutama setelah gencarnya operasi penumpasan teroris di Aceh dan Poso.

Kasubdit Kamneg Ditintelkam Polda Kalteng AKP Purba mengakui, wilayah hukumnya rawan menjadi tempat persembunyian teroris karena secara geografis merupakan daerah perbukitan. Hampir seluruh wilayah Kalimantan Tengah dialiri oleh sungai besar dan kecil.

“Itu sudah kami antisipasi dengan deteksi dini melalui koordinasi dan komunikasi secara intensif di daerah-daerah yang dianggap rawan,”ungkap Purba di Mapolda Kalteng, Kamis (5/12/2019).

Penangkapan terduga teroris di Kota Palangkaraya dan Kabupaten Gunung Mas, membuktikan deteksi dini yang digencarkan kepolisian berjalan optimal. Peningkatan pengamanan mulai digelar pascabom Bali tahun 2002.

Ketika itu, Ali Imron sebagai koordinator lapangan peledakan Bom Bali dan tersangka lain Mubarok ditangkap di tempat persembunyiannya di Pulau Tanjung Brukang, di lepas pantai Samarinda, Kalimantan Timur. Ali Imron dan Mubarok akan melarikan diri ke Sabah Malaysia. Pasalnya, Pulau Tanjung Brukang berada di perbatasan Malaysia dan Indonesia.

“Wilayah Kalteng itu cukup luas jalur persembunyiannya. Hutannya nyambung dengan Kalimantan Barat dan provinsi lainnya hingga Malaysia,” kata dia.

Purba melanjutkan, Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) telah menetapkan Kalimantan merupakan jalur pelarian dan digunakan kelompok teroris untuk melakukan persembunyian. Utamanya Kalimantan Tengah karena dianggap paling strategis.

“Tempat kita ini beberapa kali jadi pelarian mereka. Dari Kaltim ke sini, dari Kalbar juga ke sini sampai latihan pun di sini. Paling enak, strategis. Jalurnya itu lewat air dari Sulawesi ke Kalimantan, ada juga dari Filipina,” jelas dia.

Dikatakannya, antisipasi masuknya teroris baik dari Aceh maupun Poso, tidak sekadar dengan mempertebal pasukan melalui operasi cipta kondisi dan patroli. Kepolisian mengintensifkan pendekatan terhadap masyarakat agar segala potensi ancaman sekecil apa pun segera dilaporkan.

Untuk itu diharapkan dukungan serta peran masyarakat kepada aparat keamanan agar mengejar dan mengungkap kelompok JAD serta mengantisipasi serangan teroris.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *