Kehujanan Di Bandara Dan Delay Putra Presiden Tetap Tidak Menonjolkan Diri Sebagai Anak Presiden

0
166

Radarkontra – Posting-an pemilik akun Facebook bernama Henri Subaktio, sejak Minggu (17/12/2017) menarik perhatian.

Berisi tentang pengalamannya bertemu dengan Gibran Rakabuming, anak sulung Presiden Jokowi.

Henri yang berprofesi sebagai dosen di Universitas Airlangga itu menceritakan kronologi pertemuannya dengan Gibran.

Pada Minggu kemarin, Henri menumpangi pesawat udara maskapai Wings dari Solo, Jawa Tengag menuju Surabaya, Jawa Timur.

Pesawat itu harusnya terbang jam 10.30 WIB.

Namun, pesawat itu mengalami delay yang cukup lama, hampir 3 jam.

Sesampainya di Bandara Juanda, Surabaya pukul 14.30, hujan turun dengan cukup deras.

Saat turun dari pesawat, penumpang tidak disediakan payung hingga para penumpang harus berbasah-basahan saat berpindah dari pesawat menuju terminal.

Dari banyaknya penumpang yang ada di pesawat itu, tidak ada yang menyadari kehadiran anak dari orang nomor satu RI tersebut.

Henri menyebutkan bahwa Gibran pergi sendiri dari Solo ke Surabaya tanpa ada pengawalan serta tidak ada penjemputan yang istimewa.

Dia juga bahkan dibiarkan kehujanan dan bernasib sama dengan penumpang lain yang setengah basah.

Henri juga sempat ngobrol dengan Gibran dan mengambil foto bersama.

“Kenapa sendirian mas?” tanya Henri.

“Iya, saya biasa sendiri Pak,” jawab Gibran.

Sikap Gibran yang low-profile ini membuat Henri salut.

Pasalnya, Gibran bisa saja meminta perlakuan istimewa seperti pengawalan dan penjemputan.

Tapi Gibran malah memilih untuk kehujanan, tidak dijemput, dan mengalami delay 3 jam seperti yang dialami orang lain.

Menurut keterangan Henri, Gibran datang ke Surabaya untuk mengurusi bisnis pribadinya, martabak Markobar.

====================

Hari Minggu ini pesawat Wings dari Solo ke Surabaya harusnya terbang jam 10.30, tapi delay hampir 3 jam. Baru nyampai Surabaya jam 14.30 saat Juanda turun hujan. Tentu saja delay dan tidak tersedianya payung dari pesawat ke bis membuat penumpang pun mrengut kehujanan.

Ternyata di tengah-tengah penumpang tadi itu ada orang istimewa, yaitu putra sulung Presiden RI, Mas Gibran. Anak pak Jokowi yang juga pergi dari Solo ke Surabaya, pergi sendiri, tdk ada pengawal, bahkan saat tiba di Juanda Surabaya tidak pula ada penjemputan istimewa layaknya anak orang no 1 di negeri ini. Malah dari pesawat ke bis yg menuju terminal dia dibiarkan kehujanan. Tak beda dg kami yg juga setengah basah.

Sepertinya tidak ada yg perhatian kalau ada anak presiden disitu. Beberapa penumpang yg ada di dekatnyapun tidak ada yg menggubris karena tidak pernah menyangka ada anak presiden di tengah mereka. Kebetulan saja mas Gibran berdiri di sebelah saya di dalam bis, shg saya yg mengenalinya bisa foto dia. Saya tanya “Kenapa Sendirian Mas”, dia Jawab “iya biasa sendiri pak”

Salut saja saya dg anak presiden kita ini, sebenarnya dia bisa saja mendapat perlakuan istimewa. Pengamanan dan penjemputan, bukan malah dibiarkan kehujanan, tidak dijemput dan dibiarkan didelay sampai 3 jam. Tapi itulah keluarga Presiden Jaman now. Tidak mau menggunakan fasilitas dan tidak pula aji mumpung. Mungkin sore ini Mas Gibran datang ke Surabaya lagi ngurus bisnis pribadinya. Yaitu Bisnis Martabak “Markobar” yg ada di jalan Pucang Anom Timur, Surabaya. Inilah Anak Presiden yg jualan Martabak. Itulah Gibran Rangka Buming bin Joko Widodo. Teman-teman pernah coba beli martabaknya belum? Coba deh kalau belum lumayan kok.

(Henry Subiakto)

=====================

Mantan pemimpin redaksi majalah Tempo Goenawan Mohamad yang secara khusus memperhatikan perihal tersebut, sudah mempertanyakan kepada keluarga Presiden Jokowi. “Saya tanya ke seorang keluarga @jokowi apa benar itu anak sulung Presiden, naik pesawat tanpa dijemput dan diantar? Jawabannya: “Itu foto pengusaha martabak, mas!””

Demikian postingan twitter @gm_gm sambil berkomentar singkat “lucu tak berlagak”.