Kerja Profesional Kepolisian Dekati Keterlibatan Tim Mawar Dan Keluarga Cendana

25 Views

Profesionalisme dan metodologi penyelidikan yang demikian modern oleh aparat kepolisian berhasil mengungkap tidak hanya pelaku kerusuhan 21-22 Mei 2019 di sekitar gedung Bawaslu. Namun penyelidikan tersebut harus disertai bukti-bukti materiil dan formil untuk menjerat dalang sebenarnya dari kerusuhan yang terjadi untuk menentang hasil perhitungan KPU yang memenangkan paslon 01 Jokowi-Ma’ruf Amin.

Dari maksud demonstrasi dan kehadiran para perusuh tentunya yang dapat ditunjuk hidung sebagai pelaku utama kerusuhan 22 Mei adalah pendukung paslon no urut 02 Prabowo-Sandi. Keluarga mantan presiden Suharto yang biasa disebut keluarga cendana dan Tim mawar bentukan Prabowo Subianto untuk menculik aktivis reformasi sudah terang benderang disebutkan sebagai dalang dan penggerak kerusuhan.

Dalam laporan Majalah Tempo edisi 10-16 Juni 2019 menyebutkan mantan anggota Tim Mawar yang terlibat penculikan aktivis 1998, Fauka Noor Farid diduga terlibat di balik aksi demonstrasi yang berujung kerusuhan 22 Mei. Fauka adalah mantan anak buah Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto di Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

Dugaan keterlibatan Fauka dibalik kerusuhan 22 Mei itu diungkap dalam laporan Majalah Tempo edisi 10 Juni 2019 bertajuk ‘Tim Mawar dan Rusuh Sarinah’.

Berdasar penelusuran tim Majalah Tempo disebutkan Fauka ditengarai berada di kawasan Sarinah depan Gedung Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI saat peristiwa kerusuhan 22 Mei terjadi. Selain itu, terdapat pula sebuah transkrip percakapan yang mengungkap kalau Fauka beberapa kali melakukan komunikasi dengan Ketua Umum Baladhika Indonesia Jaya, Dahlia Zein tentang kerusuhan yang terjadi di sekitar kawasan Bawaslu.

Sementara keterlibatan keluarga cendana Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane telah menunjuk hidung sutradara kerusuhan dan disebut sebagai Big Dalang adalah dari keluarga presiden terkorup Indonesia Suharto dengan inisial TS.

“Keluarga Cendana lah ya. Big dalang,” ucap Neta ketika menjadi narasumber di program Prime Talk Metro TV, Rabu 12 Juni 2019.

Menurut Neta, terdapat seorang pengusaha sekaligus politikus berinisial TS, yang mendatangkan massa preman-preman dari Surabaya. Puluhan massa preman ini, lanjutnya, dibawa dengan pesawat, kemudian diinapkan di hotel Jalan Wahid Hasyim, dekat Gedung Bawaslu RI, Jakarta Pusat.

“Merekalah yang diduga berperan penting dalam menciptakan kerusuhan tanggal 21 Mei 2019 malam. Beberapa di antaranya sekarang sudah ditangkap dan ditahan di Polda Metro Jaya,” ungkap dia.

Dia mengatakan sejauh ini polisi baru mengungkap orang-orang lapangan saja, tetapi dalang kerusuhan sesungguhnya belum. Dalang tersebut, lanjut Neta, yang baru diungkap polisi adalah dalang yang membiayai. “Itu pun baru satu orang,” tuturnya.

“Sementara satu lagi yang membiayai inisialnya TS itu belum disentuh oleh Polisi. Nah itu yang kita sesalkan, kenapa kok polisi sangat lamban untuk mengungkap dalang kerusuhan,” kata Neta.

Maka dari itu, dia mendorong pihak kepolisian untuk menyeriusi, menginterogasi, dan mengejar dalang di balik aksi rusuh 21-22 Mei lalu.

“Supaya TS ini bisa dipegang. Karena TS terjun langsung ke massa-massa ini seperti HM (Habil Marati) itu, baru didapat kesaksiannya dari pelaku rencana pembunuhan itu,” tandasnya.

Lingkaran inti dari capres Prabowo Subianto sudah tercium, tudingan Neta Pane secara berani kepada keluarga cendana hingga saat ini tidak dibantah oleh keluarga tersebut.

Kalau polisi bekerja cepat mengungkap dalang kerusuhan, mengungkap para donatur yang membiayai aksi, maka hal tersebut akan mengerucut ke satu nama, yang disebut Neta sebagai ‘big dalang’.

Tujuan menciptakan chaos 22 Mei 2019 menurut Pane adalah taktik sang dalang untuk mendapatkan bargaining kepada pemerintah tentu tidak dapat dibenarkan bila terjadi.

Ia menjelaskan tudingannya dimulai dari demo di depan Bawaslu, di mana Titiek Soeharto juga hadir di situ. Kemudian malamnya terjadi kerusuhan.

Saat ditanya, kenapa dia tak melaporkan Titiek ke polisi, ia mengatakan sudah melaporkan, bahkan sudah bertemu dengan beberapa pimpinan Polri dan mendesak agar Titiek Soeharto harus diperiksa.

“Menurut informasi sudah ada upaya ke sana (pemeriksaan), tapi sejumlah elit mengatakan ini proses rekonsiliasi sedang terjadi,” katanya.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *