Ketika Takdir Dilawan dan Prabowo Disebut Penghianat

0
2110

Tak ada yang lebih pantas diucapkan untuk seorang Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto Selain julukan Bapak Pemecah Pemersatu Indonesia.

Menuyakitkan memang. Tapi ini sudah serba terlanjur. Semenjak era reformasi terjadi, kegaduhan politik hingga menciptakan istilah cebong dan kampret hampir tak pernah kita rasakan. Barulah di era Jokowi sebagai publik figur yang tak diprediksi dengan lawan mantan militer dan mantan menantu presiden diktator lalu muncul bumerang baru.

Era orde lama dan baru telah usai, namun ancaman baru era reformasi dengan kemenangan Jokowi dari golongan sipil tak banyak diketahui banyak orang. Ancaman karena tak terima dikalahkan oleh kalangan sipil.

Pantas saja kalau dia diremehkan dan dianggap sebelah mata, apalagi untuk sekelas kursi R1. Prabowo yang dalam hal ini sebagai lawan yang dikalahkan tentu merasa sangat tak terima. Seakan melawan takdir Tuhan, dia merayakan kemenangan sujud syukur mendahului penetapan konstitusional.

Gara-gara Prabowo, para pendukung fanatisnya juga gagal move on. Bukan hanya menjelang kampanye saja mereka menjatuhkan Jokowi. Namun, hingga 5 tahun pemerintahan sejak 2014 berbagai kritikan bercampur hoaks mereka selipkan.

Malah saat kampanye 2019 kemarin, fitnah dan hoaksnya melebihi 2014. Pendukung setia Jokowi disebut cebong sejak 2014 karena Jokowi dipanggil Jokodok untuk olok-olokan. Sedang pendukung Jokowi sendiri yang tak terima akhirnya menyebut pendukung Prabowo dengan sebutan kampret karena sering membaca berita terbalik “berisi hoaks dan fitnah”.

Prestasi sebagai pemeceha pemersatu Indonesia inilah maka pantas untuk disematkan kepada mantan pasukan elit itu.

Setelah berhasil memecah anak bangsa dengan istilah cebong dan kampret karena tak terima dengan Jokowi, kini Prabowo lagi-lagi memecah pendukungnya sendiri dengan istilah poros III.

Hal ini muncul lantaran banyak pendukung Prabowo yang mengomentari dirinya mengapa mengambil jalan konstitusi setelah gencar mengatakan tak terima hasil pemilu curang. Para kampret kini terbelah antara yang fanatis dan realistis. Prabowolah yang awalnya menciptakan fanatisme itu dengan sujud syukur berkali-kali, konferensi kemenangan dan meriakkan kecurangan TSM.

Berbagai tuduhan yang sebenarnya hoaks dia tujukan pada Jokowi yang anehnya malah sangat dipercaya mati-matian oleh pendukungnya. Dan kini saat Prabowo menyerah dan memilih kembali ke jalur konstitusi, malah membuat dirinya dicap pengkhianat.

Prabowo cs yang tak terima dianggap pengkhianat lantas menuduh pendukungnya sendiri dengan istilah poros III yang katanya sumber kerusuhan 21-22 Mei.

Biadab bukan? Tapi ini lah fakta yang terjadi saat ini dalam lingkaran Prabowo dan penganutnya.

Seharusnya Prabowo dan kubunya harus meminta maaf atas tuduhan kecurangan TSM yang tak terbukti dan mendorong pendukungnya untuk menerima kekalahan. Sehingga dipastikan tak akan timbul kemarahan dan gejolak di masyarakat yang bekepanjangan.

Wakil Sekjen Partai Gerindra Andre Rosiade menuding adanya Poros III yang berusaha mendelegitimasi pasangan Prabowo dan Sandiaga Uno.

Lewat serangkaian ciuitannya di akun Twitter @andre_rosiade, Andre mengutip opini karya Zeng Wei Jian yang berjudul Tegak Lurus Bersama Prabowo.

“Tanda-tanda semakin jelas. Elite-elite Poros III semakin nyata gerakannya. Delegitimasi Prabowo-Sandi. Rekrutan aktivis, Ex BPN, Timses Prabowo-Sandi, dan para petualang jalanan. In short; para penghianat,” cicit Andre dalam kultwit pertama dari rangkaian 12 cicitannya.

“Jalur konstitusi tertutup pasca-MK. No other way; beyond konstitusi. In common parlance: Chaoz. Mereka berharap ekonomi ambruk. CIA Involvement. Ulang Modus menjatuhkan Pa Harto. Tragedi Mei 98. Sehingga figur baru dan Poros III bisa berkuasa.”

“Indonesia akan dipimpin oleh penghianat baru. Orang baik dan lurus seperti Pa Prabowo distigma sebagai “Jenderal Kardus”. Mastermind Poros III sudah main sejak kerusuhan 21-22 Mei. Berharap Pa Prabowo dan Partai Gerindra ditangkap sebagai Dalang Kerusuhan.”

“Melemahkan Rezim Jokowi sekaligus membangkitkan kemarahan pengikut 02. Pak Prabowo disandera. Sebelum 21-22 Mei, pengikutnya ditangkap dengan tuduhan makar. Pasca Clash, 400 orang ditangkap. Prabowo pasang badan. Tenggelam bersama rakyat. Seruan “Jangan Datang ke MK”dirilis.”

“Poros III melempar dadu. Testing the water. Tetep ngajak Aksi di MK sambil caci-maki Pa Prabowo. Nyata, aksi kempes. Massa lebih patuh pada arahan Pa Prabowo. Sebagian massa yang datang adalah massa 02 dan karena ada Bu Titiek Suharto dan patuh sama Habib Rizieq.”

“Seratusan tahanan dan pengikut Pa Prabowo dilepas dari Penjara Polda. Dijamin oleh DR. Sufmi Dasco Ahmad . Atas instruksi Prabowo. Tersisa Eggi Sujana. Poros Avonturir ngarang cerita. Eggi Sujana tidak dibebaskan karena tolak deal tunduk kepada Jokowi.

“Eehh Ngga lama kemudian, tau-tau Eggi Sujana dikeluarkan dengan Jaminan Bang Dasco. Poros III mengail dalam keruh. Sikat sana, sikat sini. Pa Prabowo pasang badan demi pengikut 02 malah difitnah main mata dengan Jokowi.”

“Poros III masi menggeliat. Kapitalisasi emosi, amarah, dan idealisme banyak orang. Jebakan perangkap narasi ditebar. Pa Prabowo jangan begini dan begitu. Ngajarin Partai Gerindra beroposisi. Mereka lupa Partai Gerindra adalah Partai Oposisi selama 10 tahun.”

“Poros III menggiring perdebatan recehan. Tidak substansial. Olah amarah massa. Supaya pikiran rakyat keruh. Sehingga mudah dikadalin. Sehingga tercipta distrust terhadap Pa Prabowo. Pelantikan tiga bulan lagi. Mereka sengaja produksi kegaduhan”

“Fait accompli Pa Prabowo dan Bang Sandi. Jangan datang, Jangan Silahturahmi dan “Kami Oposisi” jadi hastag. Seolah-olah mereka lebih tau dan jago. Padahal mengeluarkan satu pejuang dari Penjara Polda saja ngga mampu. Perdebatan mestinya dalam kerangka taktis politis.”

“Pembahasan kalkulasi paling realistis dan rasional seputar oposisi atau terima tawaran Jokowi masuk kabinet. Pijakan tetap pada itikad membangun negeri. Banyak faksi di orbit Jokowi. Masuknya Gerbong Ultra Konservatis Kanan Kyai Ma’ruf amin tambah beban tersendiri.”

“Ada banyak rahasia. Pa Prabowo milih pecah dalam perut. Jaga nama baik banyak orang. Tapi Mereka diam saat Pa Prabowo diserang fitnah. Ngga ada pemimpin sebaik hati Pa Prabowo. Dan saya tegak lurus patuh instruksi apa pun yang dirilis Pa Prabowo-Sandi.”

“Apakah itu oposisi atau masuk kabinet, silahturahmi atau tolak datang ke pelantikan Jokowi, rekonsiliasi atau permanent animocity. Karena mereka lebih tau yang terbaik. THE END,” bunyi kultwit terakhir Andre.

Setelah mencicitkan kultwit tersebut, Andre merilis satu cicitan lagi yang berbunyi, “Saya bukan pendukung pak @jokowi saya tegak lurus dengan pak @prabowo. Saya bukan penghianat. Saya bukan pengincar Menteri dan Komisaris BUMN!!! Tlg di ingat sebelum menuduh orang!!”