Konflik dan Letupan Papua Bagian dari Persoalan Lama Ditambah Rasisme

80 Views

Beberapa hari belakangan ini Papua kembali menjadi sorotan setelah aksi protes dan bentrokan terjadi di sejumlah daerah. Mulai dari pengepungan asrama mahasiswa Papua di Surabaya oleh warga sekitar hingga bentrok di Malang, Jawa Timur pada Jumat (16/8).

Peristiwa tersebut berbuntut aksi protes di sejumlah wilayah di Papua Barat dan Papua pada Senin (19/8). Bahkan di Sorong, Papua Barat, warga masih melancarkan aksi dengan memblokade sejumlah jalan arteri pada Selasa (20/8). Dengan kata lain, situasi keamanan belum sepenuhnya kondusif.

Menurut kaca mata Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Adriana Elisabeth menilai bentrokan dan aksi protes yang dilakukan masyarakat Papua merupakan letupan atas permasalahan yang selama ini dirasakan. Sebagai contoh, diskriminasi dan ekonomi. Dimana masyarakat Papua tidak bisa menguasai perekonomian di daerahnya sendiri.

Persoalan itu kata Adriana telah terpendam begitu lama dalam benak. Hingga kemudian, emosi mereka meletup ketika mahasiswa Papua mendapat perlakukan rasialis di Jawa Timur.

“Ya (meledak kemarin) itu kan tinggal masalah trigger-nya saja, tapi akar soalnya sudah lama tidak diselesaikan. Kalau ini tidak diselesaikan nanti muncul lagi, muncul lagi, dengan berbagai hal itu bisa sangat rentan terjadi lagi,” jelas Adriana saat dihubungi, Selasa (20/8).

Adriana menyebut permasalahan terkait Papua memang bukan barang baru. Kesenjangan ekonomi dan diskriminasi kerap terjadi.

Namun, bukan berarti pemerintah Indonesia perlu menggelar referendum dalam waktu dekat. Menurutnya, referendum bukan solusi tepat. Pemberian kemerdekaan secara langsung dari Indonesia juga bukan jawaban.

“Terlalu cepat kalau bicara ke arah situ,” ujarnya.

Masih sering ditemukan sikap merendahkan terhadap masyarakat Papua menurut Adriana menjadi luka yang terus disayat-sayat dan itu menyakitkan.

Oleh karena itu jauh lebih baik jika semua pihak memahami terlebih dahulu kondisi yang ada saat ini. Termasuk tentang apa yang dirasakan oleh masyarakat Papua. Setelah itu, baru bisa mendapatkan solusi yang tepat.

“Sekarang kita ribut bagaimana meredakan konflik tapi akar persoalan bagaimana martabat Papua dihargai, selama ini kan tidak pernah diurus,” kata Adriana.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *