Meme Panas Pilkada Sumut, Sebut keluarga Musa Rajekshah Preman Kebal Hukum

0
1553

Radarkontra – Sejumlah meme beredar didunia maya mengenai sosok Musa Rajekshah calon Wakil Gubernur Sumatera Utara menggambarkan riwayat hidup serta sepak terjangnya.

Meme cover buku yang bertuliskan “Pemerasan :Level Gubernur, Pemerasan 101 oleh Musa Rajeckshah Cawagub Sumu 2018,” Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum”Pemerasan.

Tak hanya tulisan cover buku namun disitu juga dituliskan “Buku penuh inspirasi. Sangat membuat saya bangga” H.Anif Shah yang juga merupakan kerabatnya.

Meme kedua juga dengan warna yang terang benderang berjudul” Klan Shah Dari Sumut, Pelarian Arab Taliban jadi Raja di Tanah Tapanuli. Nampak gambar-gambar foto para kerabat SHAH diantaranya, Maher Ban Shah ketua Preman Sumut, Rajeg Shah Cawagub Sumut,The God Father Anif Shah, Almarhum Anuar Shah mantan Ketua PP, Ketua Golkar Sumut Ajib Shah dan Ketua Sapma Sumut Rahmaddian Shah.Meme ini menggambarkan jaringan keluarga Shah yang berkuasa di Sumatera Utara.

Meme ketiga dengan warna merah darah berjudul “Mafia Peras Gubernur” Musa Rajegshah Cawagub Sumut 2018 terlibat pemerasan dan korupsi.

Dari meme tersebut tokoh Cawagub sumut Musa Rajek Shah  punya sedikit catatan. Pasalnya, dua tahun lalu, seorang pengusaha sarang walet juga terduga mafia tanah eks HGU PTPN-2, Anif Shah dan putranya, Musa Rajek Shah alias Ijek dijadwalkan diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Mereka diperiksa terkait dugaan pemerasaan pada Gubernur nonaktif, Gatot Pujo Nugroho dan Sekda Hasban Ritonga di kasus Bansos Sumut, dan lahan eks sirkuit Ikatan Motor Indonesia (IMI) Medan di Jalan Pancing/Willem Iskandar.

Tak hanya itu, selain diduga terlibat pemerasan pengamanan aksi massa di kasus Bansos Sumut yang menjerat Gubernur Sumut non-aktif, Ijek dan bapaknya juga terlibat dalam kasus alih fungsi aset Pemerintah Kota Medan dan penggelapan pajak lahan Jalan Jawa Medan, dengan tersangka mantan Walikota Medan, Rahudman Harahap dan Abdillah AK MBA.

Selain itu, dalam kasus laporan korupsi eks lahan IMI, Anif Shah dan Ijek diduga menyuruh seseorang melaporkan Sekda Hasban Ritonga dalam kasus lahan eks IMI ke Kejaksaan Tinggi Sumut. Sementara ketika sidang berjalan dan akhirnya sampai pada jelang tuntutan, pelapor menarik laporannya di depan majelis hakim karena diduga telah menerima suap bersama-sama dengan Anif Shah dan Ijek hingga mencapai Rp 10 miliar dari mantan Gubernur Sumut Gatot dan Sekda Hasban Ritonga.

Bisa dikatakan kasus yang melibatkan Anif Shah dan Ijeck itu menggurita. Mulai lelang aset PTPN 2 tak sesuai dengan NJOP dan luas areal yang dilelang, kasus dugaan pemerasan Bansos Sumut, dan bahkan diduga memanfaatkan jabatan Ajib Shah sebagai Ketua DPRD Sumut untuk melakukan pemerasan pada mantan Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho.

Kasus di atas hanyalah usaha mengingatkan kita agar tidak tutup mata atas masa lalu seorang calon. Ini fakta untuk membuka lembaran sejarah seseorang saja seprti Musa Rajegshah kebal hukum.

Meme keempat menjelaskan peran dan kasus-kasus keluarga preman Sumatera utara ini kebal hukum, di meme tersebut dijelaskan judul “5 besar mafia” pertama Sosok Anif shah, Pemerkosa anak dan istri rakyat Tapanuli, kedua Ajib Shah koruptor, ketiga Dian Shah penganiaya, keempat Meherban Shah pemeras dan Kelima Musa Rajeg Shah, pemeras dan Koruptor cawagub Sumut 2018.

Sekilas korupsi Anif Shah dan Musa Rajegshah kalau dibanding dengan korupsi wisma atlit Hambalang, belum ada apa-apanya dengan mega korupsi PT Cemara Asri Group. Puluhan ribu unit realestate dibangun di atas lahan eks HGU PTPN-2 yang notabene aset negara, tanpa IMB dan izin lainnya. Kasus wisma atlit hanya sekira Rp1,2 triliun. Kejahatan koorporasi PT Cemara Asri Group dipekirakan merugikan negara sedikitnya 20 triliun.

“Tak cuma perumahan, tol Anif dan SPBU serta ratusan rumah toko dan sejumlah mall yang pembangunannya tanpa bayar pajak, kini telah beroperasi megah di eks HGU PTPN-2 milik PT Cemara Asri Group,” kata Syahrijal penggiat antikorupsi Sumut.

Setelah mengetahui itu, kita harus mulai selektif dalam memilih seorang calon pemimpin. Jangan sampai kita terjebak memilih serigala berbulu domba.