Menggerus APBD DKI Jakarta Lewat Proyek Aplikasi E-Uji Emisi Ala Anies

152 Views

Gabener Anies Baswedan makin liar saja tingkah dan polanya. Sebagai Gubernur DKI Jakarta yang tak becus dalam kerjanya Anies justru banyak menghamburkan APBD DKI untuk kepentingan yang tidak jelas peruntukannya.

Aplikasi E-Uji emisi yang diluncurkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada Selasa (13/8/2019) belum sepenuhnya bisa digunakan, setidaknya untuk wilayah Jakarta Utara.

Sementara itu sebuah artikel yang dibagikan netizen pemilik akun @habibthink berjudul “Diluncurkan Anies, Aplikasi E-Uji Emisi Tak Dikenal Bengkel hingga Data Keliru” banyak mendapat komentar dari pengguna twitter lainnya.

Banyak netizen yang curiga dengan proyek Aplikasi E-Uji emisi yang diluncurkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada Selasa (13/8/2019) hanya alat untuk menguras APBD saja.

@aditdwigunaa: Maklumin aja. Bayar cicilan aksi aksi kmarin lom lunas. dana terus digerus buat proyek2 yg keliatannya besar karena “tutur kata yg indah, sopan, intelek” nyatanya bikin proyeknya semacam bambu ngentod, app non kordinasi, as soon trek e formula

@sendysuwanto: Dia ngerti cara belanjakan uang dgn benar.

@bigdaddy111970: Ternyata nama bengkelnya nyatut. Bacalah beritanya, pada hak ngaku itu bengkel kalau ada kerjasama uju emisi. Malah ada yg bilang, “dulu pernah”. Jangan2 nyatut kerjasama yg dulu tapi sdg berhenti.

@zhu_dave: Yang penting bisa ngabisin banyak anggaran. Itu aplikasi pasti dibayar mahal, tidak penting berguna atau tidak.

Pada Rabu (14/8/2019), Kompas.com melakukan penelusuran ke bengkel-bengkel yang terdaftar dalam aplikasi E-Uji Emisi tersebut. Bengkel pertama yang dikunjungi ialah bengkel Honda Sunter di Jalan Danau Sunter Barat.

Baru-baru ini Kompas.com sempat bertemu dengan kepala pengelola lapangan Honda Sunter bernama Kusnanto. Ia langsung menunjukkan alat uji emisi yang dimiliki bengkel tersebut bahkan hingga mempraktekkan penggunaannya.

Menggunakan alat tersebut hasil dari uji emisi mobil yang diuji coba tercetak menggunakan selembar kertas kecil. Kompas.com kemudian menanyakan mengenai penggunaan aplikasi E-uji Emisi.

“Belum ada, itu aplikasi bagaimana maksudnya?” ujar Kusnanto.

Setelah dijelaskan mengenai aplikasi tersebut ia kembali menegaskan bahwa belum ada penerapan aplikasi tersebut di bengkelnya.

Bahkan, kata dia, dirinya sudah lama tidak berkomunikasi dengan Pemerintah.

Itu artinya aplikasi E-Uji Emisi yang dibuat oleh Anies Baswedan dengan dana mahal sangat tidak bermanfaat bagi masyarakat DKI Jakarta bahkan cenderung hanya dibuat untuk menghabiskan anggaran.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *