Mengupas Dukungan Ustadz Abdul Somad, Seberapa Berpengaruh?

0
997
Mengupas Dukungan Ustadz Abdul Somad, Seberapa Berpengaruh?

Pengaruh ulama terhadap individu untuk kehidupan beragama di Indonesia sangatlah besar. Tapi pengaruh ulama untuk mengarahkan pilihan politik individu dalam pemilu, baik untuk memilih partai, ataupun memilih capres, sangatlah kecil.

Hukum besi di atas perlu dipahami jika ingin mengerti dinamika perilaku pemilih di Indonesia. Lihatlah hasil pemilu bebas Indonesia. Pemilih Muslim di Indonesia sekitar 85 persen-87 persen. Sejak pemilu demokratis 1999, partai dengan perolehan suara tertinggi justru dari garis nasionalis atau partai terbuka: PDIP, Golkar, Demokrat. Aneka partai yang berwarna keIslaman, yang dekat dengan ulama, justru menjadi partai papan tengah saja seperti PKB, PPP, PKS, PAN, juga PBB.

Pada 2019, PDIP acapkali dikecam sebagai partai yang dituduh “penista agama, membela PKI.” Semua itu tentu hoaks. Nyatanya, di semua survei kredibel, PDIP kini nomor satu bahkan jauh dibandingkan partai lain.

Bagaimana pemilu presiden? Pada pemilu 2004, yang menjadi wakil capres Megawati adalah ulama besar NU: Hasyim Muzadi. Pasangan ini dikalahkan telak dengan jarak lebih dari 20 persen oleh pasangan SBY-JK. Bahkan di pusat NU di Jawa Timur, pasangan Hasyim Muzadi pun dikalahkan.

Itulah keunikan pemilih Muslim di Indonesia. Mayoritas batin mereka tergores mendalam untuk urusan ritual dan girah keagamaan. Tapi untuk perilaku politik pemilu, mereka lebih independen, tidak terpengaruh banyak oleh ulama.

Adalah LSI Denny JA dalam pemilu presiden 2019 yang pertama-tama mengangkat lima ulama yang paling berpengaruh. Itu sesuai survei pada November 2018. Paling berpengaruh didapati dengan melihat tiga variabel: tingkat pengenalan ulama, tingkat kesukaan, dan tingkat ketaatan (mendengar imbauan).

Lima ulama terpilih berdasarkan rangking: Ustad Somad, Arifin Ilham, Yusuf Mansyur, Aa Gym, dan Habieb Rizieq. Publik yang mengikuti imbauan Ustad Somad sebesar 30,2 persen. Itu yang tertinggi dibandingkan empat ulama lain. Sekali lagi, mengikuti imbauan dalam survei di atas itu untuk pengertian umum. Terutama untuk panduan hidup keagamaan. Bukan soal efek electoral.
Efek elektoral mempunyai variabel yang lebih kompleks. Ia harus memperhitungkan banyak variabel lain. Misalnya: Pemilih Muslim yang sudah menentukan pilihan versus yang masih mengambang. Pemilih Muslim yang secara emosional terikat dengan ormas tertentu (NU atau Muhammadiyah, atau FPI atau lainnya). Dihitung pula pengaruh ulama satu yang bertentangan dengan pengaruh ulama lain.

Setelah kampanye panjang, pada April 2019, tak ada ulama yang lebih dikenal dibandingkan Kiai Ma’ruf Amin. Tingkat pengenalan Ma’ruf Amin kini di atas 80 persen. Itu sudah jauh di atas Ustaz Somad. Dan jauh di atas semua ulama dan tokoh agama manapun.

Kiai Ma’ruf Amien memperoleh lompatan pengenalan dan kesukaan karena efek delapan bulan kampanye. Ia dilambungkan oleh delapan bulan menjadi pemberitaan media.

Pada survei LSI Denny JA, bulan November 2018, sengaja Ma’ruf Amien tidak disertakan dalam rangking ulama berpengaruh karena ia diposisikan pasangan capres-cawapres yang sedang bertarung. Namun jika data yang ada dibandingkan, Kiai Ma’ruf Amien versus Ustaz Somad, dalam survei Maret 2019, pengaruh Ma’ruf Amien lebih besar dibandingkan Ustaz Somad. Ma’ruf Amien jauh lebih didengar untuk komunitas NU, kalangan minoritas, pemilih Muslim yang lebih abangan. Gabungan ketiga kantong suara itu sudah mayoritas pemilih Indonesia.

Ustaz Somad lebih didengar di kalangan pemilih Muslim yang merasa bagian dari FPI, Reuni 212, dan sebagian besar yang tak berafiliasi. Total komunitas itu tidaklah sebesar NU. Apalagi jika dibandingkan dengan NU plus pemilih minoritas plus pemilih Muslim abangan.

Maka, dukungan Somad kepada Prabowo itu too little, too late. Sangat terlambat karena situasi sudah terbentuk, terpola. Sebelum Ustad Somad tampil memberikan dukungan, mayoritas 85 persen dari pendengarnya memang sudah ada di kubu Prabowo.
Dukungan Somad hanya mengkonfirmasi. Tanpa dukungan terbuka dari Somad pun, mereka memang sudah di Prabowo. Sisi lainnya, sekitar 15 persen pendengar Ustaz Somad berada di kubu Jokowi. Mereka mendengar imbauan Ustaz Somad soal keagamaan. Tapi soal pilihan politik, mereka mandiri.

Begitu banyak variabel yang bekerja dalam perilaku pemilih. Walau mereka suka ceramah agama Ustaz Somad, sebagai misal, mereka tetap ada di Jokowi karena keterikatan mereka pada NU lebih tinggi sebagai misal. Atau mereka lebih mendengar ulama lain, yang menurut mereka lebih dekat seperti Kiai Ma’ruf Amien. Bahkan Kiai Ma’ruf menjadi cawapresnya Jokowi.

Model asosiasi Somad atas Prabowo itu bentuk endorsement saja: dukungan terbuka saja. Dalam dunia konsultan politik itu disebut soft selling, bukan hard selling. Pengaruh Ustaz Somad kepada pemilih akan berbeda misalnya jika ia sendiri menjadi wapres Prabowo. Atau ia berkampanye langsung ke masjid- masjid dan kelompok pengajian sejak dahulu kala.

Model endorsement seperti yang kini dilakukan, apalagi hari pencoblosan kurang dari seminggu, menjadi too little. Dari tujuh lembaga survei yang kredibel, jarak kemenangan Jokowi atas Prabowo bervariasi antara 13 persen hingga 25 persen. Jarak itu terlalu jauh untuk dilampaui oleh model dukungan Ustaz Somad.

Lalu apa arti dan makna dukungan Somad secara terbuka pada Prabowo yang videonya beredar sejak 11 April 2019 kemarin? Ini adalah momen yang unik. Sungguh gurih menyaksikan bagian dari petuah dan nasehat agama dalam video tersebut.

Itu kutipan yang bagus. Ujar Ustaz Somad, dengan mengutip ulama lain, jika doa kita mujarab, dan kita hanya punya satu doa saja, maka pilihlah doa meminta pemimpin yang adil. Hadirnya pemimpin yang adil besar sekali manfaatnya menciptakan masyarakat yang terlindungi rasa keadilannya.

Permintaan khusus Ustaz Somad jika Prabowo terpilih, jangan undang dirinya ke istana. Sebagai ulama, ia memilih mendidik umat tidak di istana tapi pergi ke kampung- kampung.

Namun pernyataan Ustaz Somad bahwa ia bertemu beberapa kiai yang bersih hatinya. Yang menitipkan nama Prabowo, itu hal yang biasa. Dalam komunitas NU, ditemui lebih banyak lagi kiai yang juga diyakini bersih hati dan menitip nama Jokowi.

Dalam video itu, Prabowo mendengar penuh takzim. Nampak ada keharuan pada Prabowo. Jelas ini model soft selling yang menyentuh. Tapi soal efek elektoral? Kembali kepada prinsip di atas. Ulama di Indonesia memiliki pengaruh sangatlah besar untuk panduan hidup beragama. Namun pengaruhnya untuk politik pemilu, sangatlah kecil.