Novel Bamukmin Harus Berkaca Kalau FPI Picu Rusuh Papua

Novel Bamukmin Harus Berkaca Kalau FPI Picu Rusuh Papua
189 Views

Jakarta – Gerakan PA 212 makin terasa sebagai gerakan politik bukan lagi membela agama karena faktanya hampir semua urusan politis

dicampurinya tanpa melihat background permasalahan secara lengkap alias asal bunyi (Asbun).

Seperti diutarakan Juru Bicara Persaudaraan Alumni 212 Novel Bamukmin menilai pemerintah harus bertindak tegas atas kerusuhan di

Manokwari, Papua. Alasannya, karena tindakan merusak fasilitas umum jelas tidak dibenarkan oleh hukum.

*”Karena kalau tidak aksi mereka bisa menjadi-jadi dan sangat mengancam keutuhan bangsa,” kata Novel kepada VIVAnews, Senin, 19 Agustus

2019*.

Kemudian, dia melanjutkan, untuk TNI segera berlakukan darurat militer demi mengantisipasi gejolak yang semakin besar yang ingin

memanfaatkan situasi itu untuk deklarasi memisahkan diri dari NKRI.

“Karena sinyalemen itu secara resmi disampaikan pejabat tinggi, ASN di Pemda Papua,” ujarnya.

Dengan pendapat tersebut kita sebagai orang awam berfikir, PA 212 ini apa? Siapa mereka kok bisa nyuruh-nyuruh TNI memberlakukan darurat

militer segala? Sejak kapan PA 212 jadi ngurusi urusan Papua segala?

Padahal awal berdirinya gerakan PA 212 ini katanya untuk membela agama dalam kasus tuduhan penistaan yang dilakukan Basuki Tjahaja

Purnama. Ahok sudah dipenjara dua tahun, sudah menghabiskan waktunya di penjara menjalani masa hukuman. Kasus itu seharusnya sudah

selesai. Dan seiring tuntasnya kasus itu mestinya PA 212 juga sudah bubar jalan. Toh misinya memenjarakan Ahok sudah terlaksana.

Kalau seperti ini makin kentara jika 212 sejatinya adalah gerakan politik. Dulu digunakan untuk menggagalkan Ahok jadi Gubernur DKI

Jakarta periode kedua. Mereka berhasil. Anies Baswedan muncul sebagai pemenang Pilkada setelah mempolitisasi ayat dan mayat.

Kemudian PA 212 tetap eksis dengan berbagai moment reunian dan aksi-aksian sepanjang musim kampanye Presiden. Orang-orang PA 212 juga

banyak yang berada di kubu pendukung Prabowo-Sandi. Mereka juga ikut dalam ijtimak ulama. Dari sini sudah jelas bahwa 212 sebenarnya

adalah gerakan politis yang niatnya menggagalkan Jokowi jadi Presiden.

Sekarang Jokowi sudah menang. Prabowo-Sandi kalah. Prabowo dan Jokowi sudah saling bertemu dan rukun kembali. Namun sepertinya PA 212

tetap bermanuver termasuk sekarang ini cawe-cawe di soal Papua.

Krisis di Papua ini adalah buntut dari apa yang dilakukan FPI di Surabaya dan Malang. Kalau mereka tidak berulah, tidak akan ada hoax

yang mengatakan ada korban meninggal. Juga ada ketersinggungan soal monyet.

Diakui atau tidak, banyak pentolan FPI yang merupakan elemen dari PA 212. Dan sepertinya mereka menggunakan PA 212 sebagai corong. Ya

sebab kalau bicara sebagai FPI jelas akan ditertawakan. Ketua Umumnya saja nggak pulang-pulang, plus organisasinya saja tak berijin.

Setidaknya kalau membawa embel-embel PA 212 masih akan dapat sokongan dari pendukung aksi bela agama kemarin-kemarin.

Pernyataan PA 212 ini makin menegaskan bahwa memang yang sedang terjadi adalah orkestrasi kerusuhan. Sepertinya setelah gagal

menggunakan isu agama, kini yang dikipas-kipasi adalah isu kesukuan.

Setiap suku pasti punya kebanggaan dan kolegalitas. Siapa yang nggak marah dengan apa yang sudah terjadi. Maka terjadilah aksi massa di

beberapa wilayah Papua saat ini.

Pertanyaannya? Apakah darurat militer itu perlu? Saya rasa sih nggak. Situasi pasti bisa dikendalikan. Saya masih percaya bahwa pihak-

pihak terkait pasti bisa berdiplomasi dan menenangkan situasi. Ini hanyalah persoalan salah paham.

Yang justru jadi pertanyaan, kenapa ujug-ujug PA 212 ngoyo menyuruh darurat militer? Apakah mereka mau mengesankan bahwa ada chaos yang

sedang terjadi di Indonesia sehingga nantinya kepercayaan dunia internasional pada RI, utamanya kepemimpinan Presiden Joko Widodo, akan

berkurang atau hilang?

Kalau memang tujuannya begitu, jelas ini adalah upaya menurunkan marwah Pemerintahan Joko Widodo di masa transisi jelang pelantikan

Presiden dan Wakil Presiden periode 2019-2024 yang sedianya akan digelar Bulan Oktober mendatang. Masih ada yang nggak ikhlas kalah dan

mencoba mencari cara untuk mengacaukan Indonesia.

Sungguh lebih baik PA 212 diam dan nggak usah ikut komentar soal Papua ini. Biarkan Pemerintah menyelesaikan masalah yang ada. Itu

saudara kami yang akan dirangkul dan saya yakin rakyat Papua akan melihat masalah ini dari kacamata yang lebih luas lagi.

Mari kita sama-sama berdoa dan bergandengan tangan supaya mereka yang ingin memecah belah bangsa ini hanya bisa gigit jari.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *