Penculikan Aktivis Atas Perintah Prabowo

0
47
Penculikan Aktivis Atas Perintah Prabowo
Penculikan Aktivis Atas Perintah Prabowo

Penangkapan aktivis pada 1997 terjadi kala Prabowo Subianto masih menjabat Danjen Kopassus.

Dalam pemeriksaan terbukti, Tim Mawar yang beranggotakan 11 prajurit Kopassus pimpinan Sersan Mayor Bambang Kristiono mengaku “mengamankan” sembilan aktivis itu, untuk melempangkan jalan bagi SU MPR 1998.

Terkait hal itu, Mayjen (TNI) Syamsu Djalal angkat bicara soal kasus penculikan aktivis pada 1997.

Mantan Danpuspom TNI yang mengusut kasus penculikan aktivis itu mengatakan Tim Mawar Kopassus mengakui telah menculik sejumlah orang.

Mereka juga mengaku melakukan penculikan karena diperintah oleh Danjen Kopassus saat itu yakni Prabowo Subianto.

“Komandan Tim Mawar (Mayor Bambang Kristono) mengaku kalau melakukan penculikan atas perintah komandannya yakni Danjen Kopassus,” kata Syamsu di depan ‘Konsolidasi Korban Pelanggaran HAM’ di Gedung Joeang ’45, Jakarta, Rabu (25/6/2014).

Saat itu, Syamsu merasa aneh lantaran yang diculik tidak membahayakan negara. Dia lantas memanggil semua korban yang selamat untuk meminta keterangan.

“Dan yang saya heran kenapa Pius (korban penculikan selamat) gabung ke Gerindra (ikut Prabowo). Kenapa gerangan?” kata dia.

Letjen Prabowo Subianto diberhentikan dari dinas militer karena diduga terlibat penculikan 13 aktivis yang hingga kini masih hilang. Prabowo sempat tinggal di Yordania dan kembali ke Indonesia lalu terjun ke dunia politik.

Alih alih bersikap ksatria, Prabowo kemudian kabur ke Yordania untuk menghindari jerat hukum.

Kini ia bernafsu untuk mengurus rumah tangga rakyat Indonesia yang berjumlah 250 juta jiwa, padahal mengurus rumah tangga sendiri berakhir dengan cerai. lalu apa yang bisa dibanggakan?

Sebagai mantan petinggi militer yang mencalonkan diri sebagai capres, Prabowo sering grusah-grusuh dalam mengambil sikap dan keputusan.

Salah satunya terkait hoaks Ratna Sarumpaet yang justru disebarkan secara massif dan berakhir blunder dengan diiringi permintaan maaf.

Namun seperti tak jera, Prabowo kembali mengangkat narasi pesimistis dengan menyebar ketakutan bahwa tahun 2030 Indonesia Bubar.

Hal tersebut sangat kontradiktif dengan pencalonannya untuk memimpin Indonesia.

Lebih dari itu, Prabowo sangat minim sikap menghormati orang lain dan cenderung gila dihormati.

Hal ini terlihat dari sikapnya saat menggeneralisir orang Indonesia Timur yang dianggap cepat naik pitam dan suka berantem, kemudian menghina profesi wartawan bergaji kecil, menghina warga Boyolali yang dianggap miskin dan ndeso, serta menghina profesi ojek online.

Kejadian terakhir, Prabowo sempat memarahi media ketika Reuni 212 yang diklaim berjuta-juta massa tidak diberitakan.

Selain itu, Prabowo juga sempat menghina etnis dan menjelekkan bangsa Indonesia yang sedang diperjuangkan untuk dipimpin sebagai bangsa goblok dan naif.

Sebuah ironi dan irasional dari seorang tokoh yang memiliki segudang prestasi menghina bangsa dan menakut-nakuti rakyat. Masihkah pantas untuk dipilih? tentu tidak jika tak ingin disebut goblok.