Penghinaan Prabowo kepada Warga Boyolali Bikin Gaduh, Gayanya Tiru Donald Trump

0
111
Penghinaan Prabowo kepada Warga Boyolali Bikin Gaduh, Gayanya Tiru Donald Trump
Penghinaan Prabowo kepada Warga Boyolali Bikin Gaduh, Gayanya Tiru Donald Trump

Dakun (47), seorang warga Boyolali, Jawa Tengah akhirnya melaporkan capres nomor 02, Prabowo Subianto ke Polda Metro Jaya atas penghinaan dengan menyebut ‘TAMPANG BOYOLALI’ saat berkampanye.

Prabowo diduga telah mendistribusikan informasi elektronik yang bermuatan kebencian sebagaimana tercantum dalam Pasal 28 ayat 2 jo Pasal 45 A 2 UU RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang ITE dan/atau Pasal 4 huruf b angka 2 jo Pasal 16 UU RI nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis dan/atau Pasal 165 KUHP.

Pidato Prabowo di Boyolali, pada Selasa (30/10) lalu itu membuat Dakun merasa tersinggung dan terhina atas ucapan Prabowo soal ‘tampang Boyolali’.

Berikut kutipan pidato Prabowo:

“Sebut saja hotel mana di dunia yang paling mahal, ada di Jakarta. Ada Ritz Carlton, ada apa itu, Waldorf Astoria Hotel. Namanya saja kalian tidak bisa sebut. Ada St Regis dan macam-macam itu semua tapi saya yakin kalian tak pernah masuk hotel-hotel tersebut. Betul?”

“Kalian kalau masuk mungkin kalian diusir karena tampang kalian tidak tampang orang kaya. Tampang kalian, ya, tampang-tampang Boyolali ini.”

Dakun mengaku dirinya merasa telah dilecehkan dengan ucapan yang disampaikan oleh Prabowo. Kata-kata Prabowo itu ia sebut seolah-olah menyatakan jika warga Boyolali miskin dan tidak pernah masuk mal dan hotel.

Atas pernyataan Prabowo, Dakun mendatangi SPKT Polda Metro Jaya dengan didampingi oleh kuasa hukumnya Muannas Alaidid.

“Jadi saya sebagai warga Boyolali merasa tersinggung dengan ucapan Pak Prabowo bahwa orang Boyolali itu terkesan miskin dan tidak pernah masuk mal atau hotel, padahal yang namanya hotel di Jakarta ini saya sendiri contohnya sering (ke hotel dan mal),” ujarnya, Jumat (2/11).

Pidato bernuansa sara ini telah membuat gaduh Tanah Air pasalnya di tahun politik ini Prabowo telah menciptakan kebisingan di tengah masyarakat dengan menghina warga Boyolali. Demi meraup suara dikancah Pilpres Prabowo justru telah mengorbankan warga Boyolali.

Tentunya bagi mereka yang waras, pasti menyesalkan isi pidato tersebut. Karena tidak seharusnya Prabowo menusuk warga Boyolali dengan hinaan rendah demi meraup suara.

Pidato Prabowo hina warga Boyolali beberapa waktu yang lalu, benar-benar membuat kita geleng-geleng kepala. Terkadang bagi mereka yang berpikir dengan logika akal sehat, tak habis pikir, bagaimana seorang pemimpin merendahkan rakyatnya.

Pengamat politik Afriadi Rosdi menilai, Ketua Umum DPP Partai Gerindra tersebut memperlakukan pilpres layaknya pertandingan tinju dan kampanye adalah arena ring tinju.

“Kesannya, Prabowo dan Jokowi adalah petinju yang disuruh bertarung di ring tinju. Jadi, ketika bel (kampanye) sudah dibunyikan, dia melancarkan pukulan bertubi-tubi kepada lawan dengan harapan lawan KO atau dia minimal menang angka,” katanya.

Afriadi mengatakan hal itu, karena belakangan Prabowo terkesan mempertontonkan ke publik serangan demi serangan kepada Jokowi. Terkesan masyarakat Indonesia miskin dan hidup masyarakat susah.

Ketua Pusat Kajian Literasi Media ini mengaku kecewa, ketika Prabowo mencontohkan 99 persen masyarakat Indonesia hidup dalam kemiskinan.

“Saya kira itu ngawur yang sangat nyata. Tentu ini menimbulkan pertanyaan, Prabowo mengerti membaca data statistik atau sengaja memanipulasi data untuk kepentingan politik, atau malah mendapat suplai data yang salah dari timnya,” ungkap Afriadi.

Seharusnya seorang Prabowo bisa mengisi kampanye dengan konten yang menyejukkan hati, bukan dengan membuat gaduh.

“Tapi secara pribadi saya agak kecewa dengan gaya kampanye Prabowo. Terkesan tak ada terobosan,” ujar Afriadi.

“Ternyata Prabowo masih berkampanye dengan cara yang sama,” tambah dia.

Prabowo sebagai calon Presiden seharusnya tidak menggunakan idiom kaya-miskin atau penghinaan, karena hal tersebut bisa dianggap mengarah pada unsur yang bersifat rasial atau rasis. Pola kampanye tersebut juga telah meniru model kepmimpinan Presiden Donald Trump. Seharusnya seorang pemimpin memberi sikap optimisme.

Terkait potongan video pidatonya yang menyinggung soal ‘tampang Boyolali’, Bupati Boyolali, Seno Samodro menyatakan tak akan memilih Prabowo di Pilpres 2019.

“Yang jelas saya sih nggak milih Prabowo,” tegasnya seperti dari detikcom, Jumat (2/11).

Ia pun tak menyalahkan jika warga melaporkan Prabowo ke Polisi. “Monggo saja,” kata dia.

Sementara itu, Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho memberikan tanggapannya terkait ucapan ‘tampang Boyolali’ yang sedang viral. Tanggapannya tersebut ia sampaikan di akun Twitter pribadinya, @sutopo_PN, Jumat (2/11/2018).

Sutopo menegaskan bahwa ia bangga menjadi orang asli Boyolali.

“Bangganya bisa berfoto bareng sama Pak Jenderal Mulyono (KSAD). Sama-sama alumni SMA 1 Boyolali. Sama-sama pernah mengalami prihatin saat sekolah. Sekarang kita tergabung dalam FBI = Forum Boyolali Indonesia. Dari Boyolali untuk Indonesia dan dunia. Mohon tidak diplintir” tulis Sutopo di akun Twitter-nya.

Saat ini Prabowo sedang berusaha mengubah cira galak nya menjadi lebih santun dalam rangka menghadapi kontestasi Pilpres yang telah diikuti untuk ketiga kalinya, namun citra santun dan merakyat telah lebih dulu menjadi milik calon petahana sejak awal kemunculannya pada 2014 lalu.

Di satu sisi, model kampanye Prabowo-Sandi juga terkesan hanya mempertontonkan ke publik serangan demi serangan kepada Jokowi tanpa berbasis data pasti ataupun solusi.

Prabowo Subianto menyebut berbagai hotel mewah yang ada di Jakarta kemudian berkata bahwa orang Boyolali mungkin diusir karena tidak tampang orang kaya, jelas telah merendah martabat bangsa nya sendiri.

Bukannya memberikan solusi malah menghina, bukannya memberi semangat malah merendahkan. #SaveMukaBoyolali.