Prabowo Pemberontak yang Hanya Manfaatkan Tuhan Demi Kepentingan Pribadi

0
941
Prabowo Pemberontak yang Hanya Manfaatkan Tuhan Demi Kepentingan Pribadi

Kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sudah tidak sabar menunggu hasil pengumuman KPU. Sudah sekian kali klaim kemenangan dipublikasikan tanpa menunjukkan data real dari sumber kemenangan itu. Sementara hasil perhitungan (Situng) KPU menempatkan paslon Jokowi-Ma’ruf menang.

Baik Prabowo maupun seluruh pendukungnya tidak mempercayai hasil quick count, dan menyebut mereka telah merekayasa hasil demi menciptakan opini bahwa kubu petahanalah yang memenangkan kontestasi.

Sejumlah dugaan kecurangan kemudian sengaja dimunculkan serta dihembus-hembus secara amat masif serta provokatif, sambil tak lupa tentu saja terus berusaha menempelkan aura-aura yang bersifat keagamaan.

Konyolnya lagi, Prabowo malah lantas tampil ke publik dan dengan percaya diri menyatakan telah memenangkan pilpres dengan perolehan suara sebesar 62 persen lengkap dengan sujud syukur atas kemenangan tersebut.

Lebih parah lagi, Prabowo Presiden pun seolah dipaksakan untuk memenuhi syahwat kekuasaannya.

Maka wajar jika seorang Bacharuddin Jusuf Habibie menyebut kelompok 02 dan juga Prabowo adalah orang yang tak tahu mekanisme.

Menristek era kepemimpinan Soeharto ini mengatakan bahwa mekanisme penyelesaian sengketa pemilu tersebut sudah ditetapkan dalam undang-undang. Menurut dia, bagi pihak-pihak yang tidak puas dengan aturan tersebut dapat mengajukan usulan perubahan undang-undang sesuai dengan prosedur yang berlaku.

“Kita ada mekanismenya, kalau Anda mau mengubah mekanismenya silakan ubah, tapi ada peraturannya cara mengubah,” jelas Presiden ke-3 Republik Indonesia ini.

Kubu Prabowo dan pakar-pakar dibelakangnya seharusnya paham terkait mekanisme penyelesaian sengketa sesuai UU. Jika tak paham baiknya dibubarkan saja, namun jika paham berarti terdapat niat untuk melanggar aturan tanpa peduli dampak yang ditimbulkan. Hal ini membuktikan bahwa Prabowo lebih mendengarkan bisikan dari ormas-ormas keagamaan yang cenderung radikal daripada saran dari partai pendukungnya.

Karena itu, Habibie menyesalkan banyaknya pihak yang kebingungan akibat adanya saling klaim bahwa pasangan calon presiden dan calon wakil presiden tertentu telah memenangi Pilpres 2019.

Bahkan ia juga sempat ditanya dalam sebuah acara buka bersama Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), di Jakarta, Kamis (9/5). Habibie menceritakan bagaimana pihak luar kerap bertanya pada dirinya tentang pemenang Pilpres 2019.

“Saya kemarin terima duta besar dari United Arab Emirates, pertanyaan pertama adalah, Pak, siapa yang menang, nomor 1 atau nomor 2,” kata Habibie.

Karena itu ia meminta agar semua pihak tidak dengan mudah membawa nama Tuhan demi kepentingan kelompoknya.

“Tidak ada segelintir memperjuangkan memanfaatkan atas nama Tuhan Yang Maha Esa Allah SWT untuk memperjuangkan kepentingan dirinya atau grupnya,” katanya.

Ia berharap setelah KPU mengumumkan hasil Pemilu 2019 pada 22 Mei nanti, masyarakat dapat kembali bekerja untuk kemajuan bangsa dengan memberikan karya-karya nyata.