Seolah Jadi Korban Bambang Widjajanto Cari Kambing Hitam Serang MK

18 Views

Strategi play victim sedang digencarkan kuasa hukum 02, Bambang Widjajanto dengan mengaduk-aduk perasaan masyarakat seoalah-olah perjuangan mereka ke Mahkamah Konstitusi digembosi.

BW pun mencari kambing hitam dengan mengaitkan MK untuk menciptakan skenario baru setelah berusaha menyerang KPU.

BW berusaha menyebar isu bahwa mereka didzalami dan menjadi korban yang diperlakukan tidak adil dengan meminta agar masyarakat waspada bila ada orang mengatasnamakan tim MK Prabowo-Sandi yang ingin mengambil bukti-bukti kecurangan Pilpres 2019.

Hal itu menyusul adanya seseorang mengaku bernama Heri yang memutus jaringan komunikasi kepada simpatisan Prabowo-Sandi.

Ini berawal dari beredarnya pesan di grup WhatsApp, seorang mengaku bernama Heri mengaku sebagai tim MK Prabowo-Sandi. Dalam pesan itu, dia menulis “berhubung banyaknya telegram dan sms yang masuk ke Pak Bambang Widjoyanto, untuk data dan video kecurangan bisa dikirimkan ke saya”.

BW mengklaim bahwa hal itu merupakan pengggembosan terhadap tim 02.

“Karena ternyata banyak beredar pesan dari orang-orang yang mengaku Tim MK Prabowo-Sandi yang bukan dari tim kami, menyatakan agar laporan data dan video dialihkan ke nomor mereka,” ujarnya melalui keterangan tertulis.

Kini gelagat mereka mulai terbaca, apa yang diprediksi mulai terlihat jelas. Mereka masih berusaha mencari kambing hitam untuk menciptakan skenario baru. Setelah KPU berusaha diserang habis-habisan untuk menciptakan ketidakpercayaan di mata masyarakat, kali ini MK menjadi korban sasaran tembak berikutnya.

Jika benar adanya seharusnya BW melaporkan ke polisi terkait segala tuduhannya, bukan memprotes ke media dengan harapan publik simpati dan meyakini bahwa mereka adalah korban yang sedang berjuang menggugat kecurangan Pilpres.

Jauh sebelum mereka melakukan gugatan ke MK, kita sudah tahu kalau menggugat pun akan percuma karena kecurangan yang mereka teriakkan terlalu bombastis padahal tidak semasif itu. Untuk membuktikannya tentu butuh bukti yang sangat masif pula. Sayangnya bukti yang mereka berikan terlalu sedikit, dan masih sebatas tautan atau link berita.

Semoga saja tidak akan ada lagi aksi serupa seperti pada 22 Mei yang memakan korban sia-sia tanpa tau perjuangan sebenarnya.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *