Swasembada Pangan Orde Baru Pakai Cara Tanam Paksa Belanda

0
2490
Swasembada Pangan Orde Baru Pakai Cara Tanam Paksa Belanda

Kubu Prabowo-Sandi gemar membanggakan swasembada pangan yang dicapai pada era Orde Baru. Bahwa dalam pemerintahan Soeharto, kata Sandi, Indonesia bisa membusungkan dada karena berhasil swasembada pangan.

Faktanya, keberhasilan itu dicapai dengan menjajah bangsa sendiri. Demikian disampaikan pengamat ekonomi Faisal Basri. Menurut Faisal, swasembada pangan di era Orde Baru tercapai akibat adanya pemaksaan kepada para petani untuk menanam varietas tertentu. Pemerintah Orde Baru tidak memedulikan kualitas sawah dan lahan petani.

Pada masa itu, pemerintah menetapkan program “Intensifikasi Pertanian”. Program tersebut lebih tepat disebut sebagai pemasakan. Petani yang membangkang instruksi Intensifikasi Pertanian akan ditangkap tentara rezim orde baru.

“Swasembada pangan Orde Baru persis dengan pola Tanam Paksa atau Culture Stelsel era penjajahan Belanda,” tutur Faisal.
Culture Stelsel secara harfiah berarti Sistem Budi Daya. Namun, karena dilakukan secara paksa, sejarawan Indonesia menyebutnya Sistem Tanam Paksa.

Penderitaan petani dan rakyat Indonesia selama periode tanam paksa oleh pemerintah kolonial Belanda diabadikan secara spektakuler oleh Penulis Belanda Eduard Douwes Dekker alias Multatuli dalam novelnya Max Havelaar. Max Havelaar adalah karya besar yang diakui sebagai bagian dari karya sastra dunia yang bercerita tentang sistem tanam paksa yang menindas kaum bumiputera Indonesia.

Seperti itu pula yang dirasakan para petani pada rezim Orde Baru. Pemaksaan produktivitas lahan/sawah tidak alami, swasembada pangan akhirnya tidak berkelanjutan. Swasembada pangan Orde Baru justru menyebabkan produktivitas petani makin berkurang. Puncaknya pada krisis moneter 1998-1999, Indonesia mencatat sejarah impor beras terbesar sepanjang sejarah 9 juta ton.