Teknologi Hingga Pembangunan Tersirat dalam Lukisan Wayang Pertemuan Jokowi dan Prabowo

64 Views

Latar belakang lukisan wayang dalam pertemuan Presiden terpilih Joko Widodo dengan Prabowo Subianto menarik perhatian masyarakat khususnya pihak-pihak yang berseberangan dengan Jokowi.

Mulai dari sosok semar, punakawan, hingga raksasa menjadi sorotan. Ternyata ada makna luar biasa dari penggambaran para tokoh wayang di belakang Jokowi-Prabowo.

Banyak diantara mereka menafsirkan lukisan tokoh pewayangan itu.

Lalu apa sebenarnya makna yang tersirat pada lukisan wayang dengan pertemuan Jokowi-Prabowo?

Peneliti cerita rakyat dari UI Suni Wasono mengatakan, lukisan wayang yang latar belakang itu memang mendatangkan banyak tafsir.

Ada tujuh tokoh wayang yang ada di lukisan tersebut. Tiga di kiri, empat di kanan. Dua kelompok wayang ini dipisahkan oleh sebuah gunungan. Dalam pewayangan, gunungan biasanya digunakan sebagai pembuka atau penutup sebuah babak.

Tokoh wayang yang ada di sebelah kanan adalah para punakawan. Mereka adalah Semar dan tiga anaknya yaitu Petruk, Gareng dan Bagong (paling belakang sendiri). Di sebelah kiri ada Togog dan sobatnya, Bilung. Paling belakang sendiri adalah raksasa.

Suni Wasono mengatakan dalam dunia pewayangan, punakawan bertugas menjadi pendamping para ksatria berwatak baik. Mereka adalah penghibur para ksatria. Sedangkan Togog dan kawanannya adalah pendamping abdi dalem raksasa yang berwatak jahat.

Dalam lukisan itu, ada tokoh Semar dan Togog. Kata dia, dalam pewayangan, tugas Semar bukan hanya sebagai pendamping para ksatria. Semar adalah jelmaan Dewa Ismaya, dewa yang menjelma dalam wujud manusia. Dalam konteks politik, Punakawan itu adalah representasi rakyat.

“Dengan adanya lukisan itu bisa ditafsirkan kalau pimpinan yang didukung sudah rukun, rakyatnya pun rukun. Kalau pimpinan mereka sudah berekonsilisasi, rakyatnya pun bersatu,” kata Suni.

Sementara itu, dalang politik Rohmad Hadiwijoyo punya tafsir lain. Kata dia, sepintas lukisan wayang tersebut menggambarkan adegan yang biasa. Sebuah adegan pertemuan antara punakawan, abdi dalem Pandawa dan abdi dalem dari pihak raksasa, yaitu Togog dan Bilung.

“Para abdi dalem itu sedang bernegosiasi untuk kepentingan bosnya yang berseberangan,” kata Rohmad, saat dikontak Rakyat Merdeka tadi malam.

Secara pribadi dapat saya simpulkan kalau abdi dalem diwakili Jokowi dan Prabowo yang harus bekerja untuk kepentingan “bos” atau rakyat Indonesia. Keduanya memang memiliki peran strategis mengingat dipiloh mayoritas rakyat Indonesia dengan selisih 10% lebih.

Jokowi bisa menjadi presiden yang mewakili kepentingan rakyat. Sedang Prabowo bisa menjado penasihat presiden seperti tokoh semar yang berada di belakangnya.

Sebelumnya Jokowi dan Prabowo mengawali pertemuan dengan naik MRT yang menunjukkan mereka berdua sudah dalam satu tujuan untuk membangun Indonesia yang padat teknologi dan inovasi. Sedang makan sate menunjukkan keduanya merakyat.

Soal pertentangan dan perbedaan yang selama ini terjadi, ibarat perang kembang seperti dalam lukisan wayang tersebut. Sebagai kekembangan demokrasi. Yaitu perangnya satria melawan raksasa. Dalam dunia pewayangan, fragmen perang kembang adalah adegan wajib dalam sebuah pagelaran. Inti dari adegan itu adalah perang melawan nafsu sendiri. Raksasa adalah simbol nafsu sendiri. Sementara manusia terbaik adalah yang bisa mengalahkan nafsunya sendiri.

Dengan pertemuan ini Prabowo sudah bisa menguasai nafsu dirinya yang haus akan kekuasaan dan menghilangkan ambisi jadi presiden. Dia sudah ikhlas menyerahkan kursi presiden kepada pesaingnya yakni Jokowi. Dan Jokowipun sudah ikhlas tak menpermasalahkan fitnah dan tuduhan kecurangan yang dilontarkan pihak lawan. Dia merangkul Prabowo dan menegaskan tak ada lagi cebonh dan kampret.

Semoga dibalik pertemuan dua tokoh besar ini segera diikuti oleh para pengikutnya. Semoga pendukung Prabowo yang masih sakit hati dan kecewa tak berlarut-larut dalam kekecewaan yang sia-sia, apalagi sampai menyerukan gerakan matikan tv secara nasional saat pelantikan. Mau dimatikan berapa kalipun tak mengubah kenyataan kalau Jokowi presiden terpilih.

Para pendukung Jokowi maupun Prabowo harus mempelajari kata-kata bijak dari tokoh semar. Berikut ini adalah beberapa kata bijak Semar.

Urip iku Urup

Yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah Hidup itu Menghidupi. Hidup itu harus bisa memberikan manfaat pada semua orang di sekitar kita. Di sinilah kenapa hidup itu menghidupi. Agar hidup kita lebih bermakna, maka kita harus bermanfaat bagi setiap orang di sekitar kita.

Sura Dira Jaya Jayaningrat, Leburing Dening Pangastuti

Jika di-Indonesiakan, maka artinya semua sifat picik, keras hati, dan angkara murka di dalam diri kita hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijaksana, sabar, dan lembut hati. Ibarat api tidak bisa dipadamkan dengan api. Perlu air untuk memadamkannya. Begitu juga dengan sifat jelek kita, harus kita redam dengan sifat baik kita, yaitu dengan kebijaksanaan, rendah hati, dan sabar.

Datan Sering Lamun Ketaman, Datang Susah Lamun Kelangan

Kata bijak Semar yang satu ini memiliki makna, bahwa jangan bersedih saat mengalami musibah yang menimpa kita, juga jangan sedih jika kita sedang kehilangan sesuatu. Karena semua akan kembali kepada-Nya. Inilah hakikat hidup.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *