Tony Rosyid Pengamat Ngawur, Malas Cek Lapangan

0
1231

Radarkontra – Sosok Tony Rosyid yang kerap mengoposisikan terhadap pemerintah dan Jokowi sangat jelas dari tulisan-tulisanya di indeks google dan tidak berimbang serta penguatan emosi negatif dalam pengemasannya.

Analisa pribadi telak menjadi bahan kerangka utama tulisanya yang menusuk dengan rumor serta prasangka.

Seperti dibeberpa media online Tony  Rosyid menulis mengenai “Istana “all out” untuk memenangkan pilkada tahun depan. Strateginya: kuasai Jawa, Indonesia akan ada di genggaman tangan. Jokowi bernafsu membidik suara di Jawa. Mengapa? Karena jawa adalah taruhan nasibnya di pilpres 2019.”

Hal diatas yang dituliskan tidak ada metode ilmiah pendukung serta prasangka buruk yang dikemas Tony Rosyid dengan emosi dan jauh dari nalar pembuktian ilmiah, tulisan tersebut hanya rumor tidak dapat dibuktikan kebenaranya.

Tony Roosyid juga menuding Cak Imin kecewa dan marah. Kedekatan Cak Imin dengan AHY, putra mahkota SBY dan manuver spanduk “H. Muhaimin Iskandar Cawapres 2019”, selain ikhtiar branding, boleh jadi adalah sebuah sinyal perlawanan. Upaya Cak Imin mendekati ketua GNPF Ulama, Bachtiar Nasir, bisa diartikan sebagai bentuk kesiagaan Cak Imin pisah sekutu dengan istana.

Jelas tulisan Tony Rosyid yang dibeberapa media disebutkan Ustad ini jauh dari prilaku kebaikan dan menebar kedamaian, tulisan tersebut mengadu domba Cak Imin dengan Istana dan ini opini sesat yang sengaja di bentuk Tony Rosyid.

Tiga partai koalisi istana kompak berencana meninggalkan RK yang sedang top angka elektabilitasnya. Rasio politiknya susah dimengerti kecuali jika itu atas instruksi istana.

Koalisi istana di Jabar cerai berai. Tersisa dua kandidat potensial, Dedy Mizwar dan Dedi Mulyadi. Dibanding Demul, Dedy Mizwar lebih menjanjikan karena unggul di popularitas dan elektabilitas. Dedy Mizwar juga dekat dengan- dan bisa diterima oleh- kalangan umat Islam yang anti Jokowi.

Dalam politik Jawa Barat menyongsong Pilgub  2018, Tony Rosyid sendiri hanya melihat situasi diluar bahkan terkesan dirinyalah yang dewa mabok dalam mengamati dan memprediksi suasana Pilgub Jawa Barat.

Dua kasus berkaitan dengan pola tulisan Tony Rosyid  di Jawa Timur dan Jawa Barat menunjukkan kesulitan memprediksi hingga asumsi serta emosi masuk dalam tulisannya. Strateginya tulisannya kehilangan fokus dan terkesan serampangan. Dalam ilmu kungfu, ini masuk kategori “Drunken master”. Polanya tulisannya tidak konsisten dan tidak bisa dibuat untuk pegangan jauh untuk mempercayainya.

Situasi ini bisa dimengerti karena pertama, tulisannya tidak memakai data akurat serta ilmiah. Contohnya Tony Rosyid menyebut Elektabilitas kandidat fluktuatif, kecuali kandidat yang kuat dalam suara dan dukungan partai. Semua kandidat di Jawa Timur dan Jawa Barat berimbang. Mereka rentan jatuh dan terpuruk. Apalagi jika sang kandidat punya kasus hukum dan ada masalah moral.

Nah jika kita chek beberapa lembaga survei yang turun ke lapangan dengan metode wawancara tatap muka termasuk metode ilmiah slovin dimana Dalam suatu penelitian, seringkali kita tidak dapat mengamati seluruh individu dalam suatu populasi, sangat berbeda contoh SMRC menyebut Ridwan Kamil terpopuler berdasar kepuasan, sama dengan LSI yang memakai pertanyaan kepuasan RK masih unggul.

Inilah bedanya tulisan opini pribadi yang tanpa fakta yang dilakuka Tony Rosyid, jika mengacu ke Jawa Timur Tony menyebut “Apalagi jika kandidat punya kasus hukum dan ada masalah moral” sepertinya hanya melihat kasus La Nyala Matalliti tanpa melihat calon gubernur Jawa Timur lainnya.

Tony Rosyid yang malas melakukan metode ilmiah ini harusnya segera mengundurkan diri dari pengamat yang kredible. Opini sesat dan framing tulisan yang tendensius bercampur dengan prediksi konyol serta tudingan ala Drunken Master.

Seperti tulisan yang memakai presentase entah dari mana Tony Rosyid mengambilnya” Kalau bersama Golkar Jokowi bisa bernego kira-kira dengan angka 30-40%, maka dengan PDIP angkanya bisa naik tajam menjadi 80-90%.”

Lagi-lagi ini perkiraan Tony Rosyid. Opini yang sok tahu tidak ada data empirik yang jelas dalam tulisan ini membuat julukan yang pantas buat Tony Rosyid yakni “PENGAMAT KIRA-KIRA” “PENGAMAT DRUNKEN MASTER”.

Sejumlah kasus sweeping pengajian, mulai dari Felix Siau, Bachtiar Nasir, Gus Nur hingga yang paling akhir adalah Ustaz Abdussomad, diasumsukan oleh kelompok Islam ABJ sebagai bagian dari tindakan anarkisme yang didalangi penguasa.

Situasi sosial dan politik di atas telah menyulitkan istana untuk membangun strategi kemenangan yang mulus di pilkada, khususnya Jawa. Inilah yang membuat istana seringkali kebingungan. Sehingga jurus politik yang keluar seringkali mirip “jurus mabuk”