Wajah Terorisme Berubah, Pemerintah Diingatkan Tak Anggap Remeh

Wajah Terorisme Berubah, Pemerintah Diingatkan Tak Anggap Remeh
840 Views

Aksi penikaman terhadap Menkopolhukam Wiranto yang terjadi Kamis (10/10/2019) di Pandegelang, Banten,  adalah peristiwa serius yang perlu menjadi keprihatinan bersama.

Secara historis, peristiwa itu mengingatkan kita pada tragedi Bom Cikini pada 1957 silam yang menargetkan Presiden RI Soekarno. Meski dalam beberapa dekade terakhir tidak terdengar adanya upaya pembunuhan terhadap pejabat tinggi negara yang cukup berhasil seperti menimpa Menkopolkam Wiranto.

Namun, hal paling mencengangkan dari peristiwa di Pandegelang itu adalah efektifitas dan akurasi aksinya. Hanya dengan satu atau dua pelaku, dengan senjata seadanya (pisau kecil), aksi mereka sudah mampu menembus target high profile sekelas Menkopolkam.

Artinya, ada lompatan metodologi aksi dari para pelaku teror yang tak bisa dianggap remeh.

Dalam kerangka itu, Wakil Ketua DPR RI, Azis Syamsuddin mengatakan, masyarakat dan Pemerintah diharapkan mewaspadai perubahan metodologi atau cara aksi para pelaku teror.

Ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian bersama. Pertama, Standard operational procedure (SOP) dari sistem pengamanan pejabat negara. Sebab, cukup mengherankan seorang pelaku pembunuhan bisa demikian mudah merangsek masuk ke dalam parimater pengamanan dan mendekati pejabat tinggi setingkat Mekopolkam yang seharusnya mendapat sistem pengamanan VVIP.

Kedua, kemampuan deteksi dini aparat keamanan, seperti kepolisian, BIN dan khususnya Densus 88. Padahal, Undang-Undang anti-Terorisme yang baru (UU No. 5 Tahun 2018) sudah memungkinkan bagi mereka untuk melakukan pencegahan lebih dini terhadap ancaman terorisme.

Ketiga, yang terpenting, kita harus kembali meninjau skema besar strategi penanggulangan terorisme di Negara kita. Sebab, setelah hampir 20 tahun negara ini melakukan perang terhadap terorisme, ancaman teror terus berkembang dengan pola dan metodologi aksi yang terus berubah.

Selain itu, semua pihak perlu memutus daur perkembangan terorisme, ektremisme dan fundamentalisme dengan mulai memupuk toleransi, cinta dan persaudaraan kepada sesama.

Evolusi teror

Dalam satu tahun ini saja dunia sudah menyaksikan setidaknya dua aksi terorisme yang cukup mencengangkan. Pertama, aksi terorisme yang terjadi di dua masjid Kota Christchurch, Selandia Baru, Jumat (15/3/2019) lalu, yang menewaskan sekitar 50 orang.

Kedua, aksi peledakan di sejumlah gereja dan hotel mewah di Srilanka, tepat pada Minggu Paskah (21/4/2019) lalu. Aksi itu menewaskan lebih dari 400 orang.

Ditinjau dari motifnya, masing-masing pelaku dalam aksi tersebut adalah penganut ideologi keagamaan paling ekstrem di dunia. Pelaku aksi teror di Srilanka adalah National Tawheed Jama’ut (NTJ), yakni kelompok Islam radikal di Sri Lanka.

Melawan ideologi kebencian

Berkaca pada kasus terorisme global yang terjadi dalam satu tahun terakhir, baik di Sri Lanka, Selandia Baru, maupun di Pandeglang tempo hari, agaknya kita perlu untuk lebih waspada terhadap evolusi kelompok terorisme ini.

Selain soal lompatan metodologi aksi dan ideologi kebencian yang menjadi sumber inspirasi aksi mereka, hal yang jauh lebih perlu dicemaskan oleh para stakeholder dunia adalah efek lanjutan dari metamorfosa aksi teror luar biasa ini; yaitu kecemasan yang bersifat global.

Tentu, akan berbahaya, ketika para tokoh atau pemimpin negara membaca fenomena aksi terorisme yang berkembang akhir-akhir ini dengan cara pandangan konvensional. Dalam kerangka itu, situasi global ini patut menjadi renungan kita bersama selaku warga dunia.

Bagaimanapun, siklus kekerasan ini harus dihentikan.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *