Yusril Tinggalkan Prabowo karena Kecewa

0
55

Radarkontra – Pengacara yang juga Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra buka-bukaan alasan dirinya meninggalkan Prabowo-Sandi.

Selama ini Yusril dikenal dekat dengan kubu Prabowo dan berseberangan dengan pemerintahan Jokowi. Tapi kini secara mengejutkan, Yusril malah meninggalkan koalisi Prabowo di Pilpres 2019.

Salah satu alasannya adalah karena kecewa. Yusril menilai, Prabowo-Sandi hanya ingin menguntungkan timnya sendiri, dan bukannya menganut sistem ‘take and gift’ atau timbal balik dalam koalisi.

Bahkan tim Prabowo-Sandi tidak pernah merespon keinginanya terkait adanya draf aliansi yang dikeluarkan saat petinggi PBB bertemu Habib Rizieq di Arab Saudi.

“Pak Kaban dan Pak Afriyansah Noor untuk bertemu Habib Rizieq ya dan membahas hal yang sama dan setelah itu mereka menyusun draf aliansi partai-partai dan itu diajukan ke Pak Prabowo, tapi sampai hari ini juga enggak ada respon,” beber Yusril seperti dikuti dari merdeka.com, Selasa (6/11/2018).

Yusril mengakui, kalau capres-cawapres Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno pernah mengajaknya untuk bergabung masuk ke dalam tim pemenangan Pilpres 2019 sekitar tiga bulan lalu atau tepat bulan Agustus-September. Ajakan itu langsung dari Sandiaga dan Waketum Partai Gerindra Ferry Juliantono. Namun, ajakan itu ditolaknya.

Menurut Yusril, seharusnya dalam koalisi ada timbal balik yang sesuai. Karena sudah pasti ia akan meluangkan banyak waktu untuk memenangkan Prabowo-Sandi.

“Kalau saya diminta menjadi tim suksesnya Pak Prabowo-Pak Sandi saya kan akan all out kampanye siang malam mengkampanyekan pak Prabowo-Pak Sandi, tapi harus diingat saya juga jadi caleg di Jakut. Kan bakal habis waktu saya untuk kampanye Pak Prabowo-Pak Sandi,” ungkapnya.

“Jadi kalau kami membantu Pak Prabowo-Pak Sandi apa yang sebaliknya bisa dibantu oleh Pak Prabowo dan Pak Sandi kepada kami. Tapi tidak ada jawaban,” tambah dia.

Yusril menambahkan, seharusnya Prabowo sebagai pimpinan koalisi berbicara pada semua partai koalisinya untuk bisa sama-sama memenangkan Pileg dan Pilpres bersamaan. Hal itu, kata dia, baru disebut sebagai timbal balik.

“Tapi kalau cuma kami diminta bantu bapak, bapak enggak mau bantu kami gimana jadinya. Tentu tidak pernah ada jawaban waktu itu jawaban Pak Sandi dan Pak Ferry ya nanti kami akan bicarakan sama Pak Prabowo tapi sampai hari ini tidak pernah ada jawaban,” ucapnya.

Seperti diketahui, Yusril Ihza Mahendra resmi menjadi kuasa hukum Capres dan Cawapres nomor urut 01 Jokowi-Ma’ruf di Pilpres 2019. Keputusannya itu ia katakan usai bertemu dengan Ketua TKN Jokowi-Ma’ruf, Erick Tohir.